Puisi, Naskah Drama, & Cerpen

BILA MALAM BERTAMBAH MALAM

drama satu babak

karya: Putu Wijaya

versi II, 1994

(versi I, 1966)

buat Ytt:

kota kelahiranku

Tabanan

nama dan peristiwa dalam

drama ini semuanya fiktif

____________________________________________________

LANGIT KEMERAH‑MERAHAN KETIKA SENJA TURUN. SUNYI MERUAP DARI TEMBOK PURI YANG SUDAH HAMPIR ROBOH. DI BAGIAN YANG BOLONG MELINTANG BAMBU‑BAMBU UNTUK MENGHALANGI BABI KELUAR MASUK. PINTU GERBANG SAMPING YANG LEPAS KE TANAH LAPANG KOTA, SUDAH TAK TERURUS. PINTU ITU DITUMBUHI LUMUT, ALANG‑ALANG DAN POHON SEMANGGI YANG SERING DIPAKAI UNTUK SAYUR. NAMUN DAUN PINTU DENGAN PALANGNYA MASIH BERFUNGSI BAIK.

DI BERANDA ITU ADA SEBUAH KURSI PUTAR YANG TUA. MEJA MARMAR TUA, DIAPIT SEPERANGKAT KURSI TUA. DI ATAS MEJA ADA PERALATAN UNTUK MAKAN SIRIH. DI SAMPING KAKI KURSI ADA TEMPOLONG BERGAMBAR BUNGA‑BUNGA. DINDING DIHIASI POTRET‑POTRET TUA, DI ANTARANYA POTRET ALMARHUM SUAMI GUSTI BIANG DALAM PAKAIAN KEBESARAN. DI SUDUT RUMAH ADA GENTONG AIR DAN GAYUNG DARI BATOK KELAPA, SERTA LAIN‑LAIN BARANG KHAS BALI YANG SEMUANYA SUDAH TUA.

GUSTI BIANG, JANDA BANGSAWAN YANG SUDAH PULUHAN TAHUN DITINGGALKAN SUAMINYA YANG TERTEMBAK MATI DI JAMAN REVOLUSI, SEDANG DUDUK  DI ATAS KURSI PUTAR MENYULAM SEBUAH SARUNG BANTAL. DI SAMPINGNYA TONGKAT BERGAGANG KEPALA NAGA. DAN SEBUAH SURAT DARI ANAKNYA YANG SEDANG BELAJAR DI SALAH SATU KOTA DI PULAU JAWA.

DI BERANDA ITU, TERJADILAH PERISTIWA INI.

S A T U

TERDENGAR SUARA WAYAN MENEMBANG, DI BELAKANBG RUMAH SAMBIL TIDUR‑TIDURAN. SEAKAN‑AKAN MENGAPAI‑GAPAI SESUATU. GUSTI BIANG MEMBIARKAN BEBERAPA LAMA TEMBANG ITU MERAJALELA, LALU BERHENTI MENYULAN, MENGERAM MENGERUK DAHAK DI TENGGOROKANNYA, LALU MELUDAH KE ATAS TEMPOLONG KUNINGAN DI SAMPING KURSI PUTARNYA. BIBIRNYA NAMPAK MENCIBIR. SUARANYA BERAT DAN TAJAM SEPERTI MENGUPAS PERISTIWA YANG PEDIH.

GST BIANG    : Wayannnnn…. Wayan…….

WAYAN TERUS MENEMBANG.

GSI BIANG    : Wayan!

TERDENGAR SEEKOR ANJING MENYALAK.

GST BIANG    : (MENGUSIR ANJING) Cek! Cek! (MELEMPAR DENGAN PINANG ‑‑ TERDENGAR SUARA ANJING MELENGKING MENYALAK LALU MENJAUH) Wayannnnn!

WAYAN BERHENTI MENEMBANG.

GST.BIANG    : Si Tua itu tak pernah memenuhi tugas dengan segera, kalau aku sedang membutuhkannya. Tentu saja dia sekarang sedang enak‑enakan berbaring di kandangnya menghitung dosa‑dosanya. Dibiarkannya aku berteriak sampai mati, baru kemudian ia datang dengan mukanya yang seperti buaya dan menjemukan! Aku sudah jijik! Semuanya sekarang salah! Tidak

ada yang bener lagi! Dunia ini sudah hampir kiamat! Wayan ! Wayan ! Wayan tuliiiii!

WAYAN BANGUN. IA MEMPERBAIKI KAIN BATIK LUSUH YANG DIPAKAINYA LALU MEMBELITKAN HANDUK KE PINGGANGNYA. TETAPI KETIKA TAK TERDENGAR SUARA GUSTI BIANG LAGI, IA KEMBALI HENDAK MEREBAHKAN DIRINYA, SAMBIL MENERUSKAN MENEMBANG.

GST. BIANG   : Wayan pikunnnnn!

WAYAN BERGEGAS KELUAR.

DUA

WAYAN TERGOPOH‑GOPOH MENGHAMPIRI GUSTI BIANG

GST BIANG    : Wayan bongollllll!

WAYAN        : Titiyang Gusti Biang.

WAYAN LANGUNG SUDUK DAN MEMIJIT KAKAI GUSTI BIANG

WAYAN        : Kedengarannya seperti ada yang berteriak‑teriak, Gusti Biang.

GST. BIANG   : Tentu saja! Leherku sampai putus memanggilmu. Sejak kapan telingamu tidak bisa dipakai lagi?

WAYAN        : Tiyang mendengar Gusti Biang. Itu sebabnya  tiyang datang.

GST. BIANG   : Jangan berbantah dengan aku kambing tua. Kamu sama sekali sudah

pikun dan rabun. Kerjamu hanya tidur, makan dan membelai kepala si Belang seumur hidupmu. Semua kutu‑kutu di telinga dan sifat‑sifatnya yang jelek sekarang sudah menurun kepada kamu.  Aku tidak  bisa  lagi  membedakan  mana  si Belang mana Wayan. Kau dengar, Wayan ?

WAYAN        : Tapi titiyang sedang menghitung‑hitung, Gusti Biang. Sebulan lagi Galungan, kenapa para jurutandu belum ada yang datang membawa ron dan busung. Sejak dihasut I Sudra masuk partai, semuanya mulai membangkang sekarang

GST BIANG    : Diam! Jangan bicara soal partai‑partai terus. Biar saja mereka membangkang, nanti aku cabut saja sawahnya baru tahu rasa.

WAYAN        : Jangan begitu Gusti Biang

GST BIANG    : Jangan apa! Kalau masih mau nandu sawah harus tahu aturan. Kalau tidak mau nurut aturan, buat apa nandu sawah.

Kasih saja orang lain yang mau. Banyak yang mau. Urusan partai aku tidak peduli. Apa partai bisa kasih makan? Makanya, jangan mau enak sendiri begitu

WAYAN        : Benar Gusti Biang.

GST. BIANG   : Nah, begitu caranya ngomong.  Jangan belum apa‑apa terus membantah, membuat aku selalu malu di depan umum. Sudah lama kamu dipelihara di sini, lama sebelum (MENGUCAP) Tu singgih, lama

sebelum almarhum meninggal. Lama sebelum Ngurah lahir. Sekarang Ngurah sudah sama besarnya dengan almarhum. Kuat dan pintar. Tiap hari membaca buku‑buku tebal yang tidak bisa dimengerti. Jadi incaran gadis‑gadis dan janda‑janda yang kesepian. Kamu sendiri apa, kamu bertambah tolol, malas, suka

membangkang, ngorok dan penyakitan di sini. Kamu dengar itu!

WAYAN        : Benar Gusti Biang. Maafkan setan tua ini. Kasihan anjing tua ini Gusti Biang. Siapa lagi kalau bukan Gusti Biang sekarang ini yang memelihara titiyang.

GST. BIANG   : Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan aku. Aku selalu memaafkan, menyayang­i, mengampuni seberapa besar pun dosa dan hutang‑hutangmu. Sebab kamu satu‑satunya sahabat suamiku almarhum yang bisa dipercaya. Yang lain semuanya penjilat. Durhaka seperti I Sudra bajingan itu. Pengkhianat semua. Partai‑partai‑partai apa! Apa partai bisa ngasih beras? Apa partai bisa ngasih sawah?! Itu ular berbisa yang mematuk kalau kita lengah.

WAYAN        : Kalau begitu ijinkan titiyang permisi ke belakang sekarang. (BANGKIT HENDAK PERGI).

GST. BIANG   : Permisi ? Wayan ! Belum tahu perintah apa yang mesti kamu kerjakan, kok sudah lari. Dasar pikun! Tukang bengong! Aku memanggilmu bukan sekedar mau menatap tampang tua bangkamu yang jamuran itu, ngerti!

WAYAN        : Benar Gusti Biang.

GST. BIANG   : Memang benar.  Anjing itu tidak akan  kesepian  bila kau tinggalkan beberapa saat. Saat‑saat yang sangat penting dan mahal dalam akhir hidupmu ini harus kamu telateni, ngerti?.

WAYAN        : Tetapi ini adalah soal lain.

GST. BIANG   : Soal lain yang mana ?

WAYAN        : Tiba‑tiba titiyang ingin menyepi di sudut kebun di bawah pohon sawo mendengarkan  bunyi kumbang dan derak pohon jambu. Seperti yang biasanya dulu titiyang lakukan waktu Ratu Ngurah masih berusia dua belas bulan. Kalau ada anjing menyalak, itu  bukan berarti ular belang  atau  hijau.  Itu adalah almarhum yang datang dari menjenguk istri beliau  yang

keduabelas.

GST. BIANG   : Diam! Jangan sebut‑sebut lagi almarhum. Kau bajingan tua. Kau tahu benar apa yang mestinya kau kerjakan kalau  aku sedang marah. Kau sebut‑sebut saja kenangan itu  sebab kau tahu  betapa hatiku  jadi  lumer  jadinya. (TERKENANG DAN MERASA PEDIH SAMBIL MENANGIS) Bangsat! Mengingat semua itu, mengingat suamiku  yang nakal dan rusuh

rasanya lepas sendi‑sendiku. Duabelas orang selir‑selir bangsat itu tidak ada yang bener. Semuanya jelek, kurangajar, pesek, gembrot, panuan. Bulu pantatku saja masih lebih cantik dari dia. Itu semua guna‑guna Wayan. Kalau bukan guna‑guna tidak mungkin. Memang pahit tapi apa boleh buat. Habis bagaimana

lagi, kalau nasi sudah di tengorokanmu, kita perempuan bisa bilang apa, kita tidak boleh bilang tidak, kita diinjak‑injak terus. Siang malam jadi bulan‑bulanan terus. Ya tidak?!

WAYAN        : Benar Gusti Biang.  Sekarang titiyang benar‑benar ingin menitikkan beberapa butir air mata untuk  segala yang sudah terjadi. Sudah lama mata ini kering tidak lagi seroyal ketika masa‑masa main asmara dulu.

GST. BIANG   : Diam! Wayan!

WAYAN        : Kenapa Gusti Biang berteriak ?

GST BIANG    : Jangan terlalu besar membuka mulut kamu. Di balik tembok itu banyak telinga yang lapar. Itu di sana ada mata, itu juga ada. Itu dia. Di mana‑mana ada mata dan kuping. Ah dasar buta tuli, masak mata membelalak dan kuping‑kuping gajah begitu kamu tidak bisa lihat?

WAYAN        : (MEMANDANG KE SEKITAR) Siapa yang masih peduli cerita orang tua

yang sudah pikun?  O ya tembok itu harus cepat diperbaiki, Gusti Biang, kalau tidak seluruhnya akan runtuh

GST. BIANG   : Dia sudah runtuh. Kamu perbaiki di depan, di belakang yang runtuh. Kamu perbaiki di belakang, belum selesai kamu yang runtuh. Biar saja. Tidak ada yang perlu dibangun lagi, ini zaman runtuh Wayan (BERDIRI MELIHAT DINDING MENATAP POTRET SUAMINYA) Sejak almarhum suamiku (MENGUCAP) Tu singgih, I Gusti Ngurah Baka, sejak beliau wafat ditembak Nica, semuanya sudah runtuh. Pelindung, pejuang yang gagah perkasa membela negara itu sudah tidak ada lagi. Hanya takdir  sesat  yang  merengutkan dia  dari  pangkuanku.  Pahlawanku, seluruh  kerabat

berkabung bertahun‑tahun, karena kepergianmu. Kami kehilangan semuanya. Kota ini menangis kau tinggalkan. Tapi kamu tidak memerlukan air  mata kambing‑kambing tua,  air mata kucing‑kucing yang mencuri rumput di halaman rumah ketika kamu lengah. Untuk seorang jantan, seorang kesatria

asli, sebesar kamu, air mata adalah musuh dalam selimut. Tapi dasar jiwamu memang besar, jiwa pahlawan sejati, kamu maafkan mereka semuanya. Kamu terus tegak dalam hatimu yang bersih.  (MENANGIS) Kenapa kamu relakan para pengkhianat yang tak tahu berterimakasih itu lebih lama hidup, kenapa kamu rela melihat aku

berkabung selama‑lamanya. Pahlawanku yang malang. Aku menangis untukmu sepanjang hidupku. Ulurkan tanganmu, tarik aku dari neraka ini, jangan tinggalkan aku sendirian

WAYAN        : Aduh, apa yang bisa titiyang sumbangkan  untuk  membalas jasa almarhum, Gusti Biang ? Bukannya titiyang sudah memelihara putra tunggal beliau dengan sebaik mungkin?  Titiyang ajarkan segala kepandaian titiyang yang diwariskan nenek moyang di desa Meliling.

GST. BIANG   : Benar juga, semuanya sudah kau ajarkan  untuknya.

WAYAN        : Titiyang ajarkan nujum hari‑hari dan telapak tangan. Bagaimana menanam tembakau, bagaimana memilih  anjing dan mendidiknya menjadi cerdik. Bagaimana mancing udang di sungai. Itu bukan pekerjaan yang sepele Gusti

Biang !

GST BIANG    : Benar. Terutama karena kamu ajarkan juga pada dia ngintip orang‑orang mandi di pancuran.

WAYAN        : O ya! Tentu saja! Apa?

GST BIANG    : Sudah! Jangan banyak mulut! Dasar pemain arja! Dekatkan ke sini lampunya! Sekarang  akan  kubacakan kepadamu  suratnya  yang terakhir. Mungkin dia sudah tamat sekolah dan akan pulang untuk memukul mulutmu yang penuh dengan rencana busuk itu.

WAYAN        : Apa? Tu Ngurah akan pulang? Benar‑benar akan pulang?

GST. BIANG   : Ya. Kamu takut ya!

WAYAN        : Takut? Kenapa takut?

GST BIANG    : Sebab dia tidak akan membiarkan kamu bertindak semena‑mena lagi, malas, tidur dan ngorok sambil menggintip semua perempuan‑perempuan yang mandi di pancuran

WAYAN        : Itu fitnah!

GST BIANG    : Fitnah juga kalau benar mau apa!

WAYAN        : Ratu Ngurah akan pulang? O Gusti, tentu saja titiyang gembira Gusti Biang! Titiyang akan menggen­dongnya dan memijit‑mijit betisnya sebelum tidur. Mengerjakan apa saja yang disukainya ! Dan

meneruskan mengajarkan bagaimana

GST. BIANG   : Mengintip perempuan‑perempuan mandi di pancuran

WAYAN        : mengintip perempuan‑petrempuan mandi di pancuran (TERDIAM LALU MEMBANTAH) Gusti Biang, tapi itu kan hanya satu kali, itu juga karena terpaksa

GST BIAMNG   : Lampu! Kaca mata!

WAYAN        : Tentu Gusti Biang ! (BERGEGAS) Ah, dia akan  segera  kembali lagi dan membelikan aku anak anjing yang berdarah Jerman. Si Belang sudah terlalu tua dan penyakitan. Aku akan ajarkan dia nujum‑nujum hari, bagaimana menanam tembakau, bagaimana menembak burung, dan tidak boleh lagi mengintip perempuan‑perempuan mandi di pancuran..

WAYAN MASUK. SEEKOR AYAM NAIK KE RUMAH. WAYAN CEPAT MENGUSIRNYA. TAPI AYAM ITU NAIK TERUS BERKELILING DENGAN GUGUP. GUSTI BIANG MEMBANTU WAYAN MENANGKAP. AKHIRNYA SETELAH JATUH‑JATUH WAYAN BERHASIUL MENANGKAPNYA DAN MEMBAWANYA KE DAPUR. GUSTI BIANG DUDUK KEMBALI DI KURSI PUTAR. MENGAMBIL SULAMAN. LALU BERUSAHA MEMASUKKAN BENANG KE JARUM. TAK LAMA KEMUDIAN TERDENGAR SUARA WAYAN MENGUSIR AYAM‑AYAM YANG HENDAK NAIK KE RUMAH. PETANG PUN TURUN PERLAHAN‑LAHAN MEMBUNGKUS HALAMAN PURI. PINTU GERBANG TELAH TERTELAN OLEH SENJA. TAK LAMA KEMUDIAN KEMBALI TERDENGAR SUARA WAYAN MENEMBANG.

TIGA

DALAM SILHUET GUSTI BIANG SEMAKIN SULIT MEMASUKKAN BENANG KE JARUMNYA. TAPI IA TERUS BERUSAHA DENGAN SUSAH‑PAYAH.

GST. BIANG   : Lubangnya terlalu kecil. Benangnya terlalu  kasar.

Ah sekarang ini apa‑apa saja mesti serba terlampau begini terlampau begitu. Sejak kemarin  aku tak berhasil memasukkan benang ini. Sekarang mataku mulai lagi berkunang‑kunang. O, barangkali toko Cina itu sudah menipu lagi. Jarum ini pasti tak berlubang atau aku terbalik memegang ujungnya ?  Wayan !  Wayan ! Lama benar si Tua itu !

MASUK BERKAS CAHAYA LAMPU TEPLOK. NYOMAN YANG MASIH SANGAT MUDA DAN CANTIK, SUDAH BERHIAS. MEMAKAI KEBAYA DAN KAIN, BELITAN SELENDANG DI PINGGANG BUNGA MELATI DI RAMBUTNYA, MEMBAWA BOTOL‑BOTOL OBAT, GELAS  DAN LAMPU TEPLOK YANG SUDAH MENYALA DI ATAS SEBUAH BAKI BALI

NYOMAN       : Gusti Biang ! (LEMBUT SEKALI, MEMPERLAKUKAN GUSTI BIANG SEPERTI ANAK KECIL BANDEL YANG PERLU KASIH SAYANG)

GST. BIANG   : Barangkali ini bukan jarum. Kawat atau lidi!

NYOMAN       : Sudah waktunya minum obat Gusti Biang. Lalu  tidur dan beristirahat. Masih banyak banten Galungan yang belum selesai. Nanti malam akan tiyang teruskan (MEMPERHATIKAN)

GST. BIANG   : Wayan ! Wayaannn !!! Jarum apa ini!

NYOMAN       : Mari Tiyang tolong (TIBA‑TIBA MEMEGANG TANGAN GUSTI BIANG).

GST. BIANG   : (TERKEJUT) Ulaaarrrrr !!! (MELOTOT PANIK)

NYOMAN       : Gusti Biang, tiyang Nyoman. Tidak ada ular.

GST. BIANG   : Kamu, kamu ……..

NYOMAN       : Aduh, Gusti Biang kok tak mengenal Nyoman lagi padahal belum begitu gelap. Itu karena

Gusti Biang sejak  kemarin  tidak mau minum obat lagi.

GST. BIANG   : Kamu leak barak! Aku kira ular belang jatuh dari  langit‑langit. Sakit jantungku kumat lagi sekarang.

NYOMAN       : Gusti Biang, takut sekali pada ular.

GST. BIANG   : Binatang itu menggigit dan menjijikan

NYOMAN       : Tak semua ular ular berbahaya seperti  penyakit  jantung.

GST. BIANG   : Aku tidak mau. Tidak mau !

NYOMAN       : Tapi sekarang sudah saatnya Gusti Biang minum obat.

GST. BIANG   : Aku tidak mau. Tidak mau !

NYOMAN       : Mari tiyang tolong memasukkan benang ke jarumnya.

GST. BIANG   : Kau tidak diperlukan di sini !

NYOMAN       : (MENGAMBIL BENANG DAN JARUM YANG TADI JATUH).

Lihat, sama sekali tak ada kesukaran. (MEMASUKKAN  BENANG KE JARUM) Memang agak gelap disini.

GST. BIANG   : Jangan menyindir. ( MEMPERHATIKAN NYOMAN YANG MEMASUKKAN BENANG KE JARUM) Tentu saja bisa begitu.  Tetapi  lubangnya terlalu sempit.

NYOMAN       : Semua jarum memang sempit Gusti Biang.

GST. BIANG   : Tapi itu tak ada lubangnya sama sekali !

GUSTI BIANG MENCOBA MEREBUT TAPI NYOMAN BERBALIK MENGHINDAR. GUSTI BIANG MEMUTARI NYOMAN. NYOMAN BERUSAHA MEMASUKKAN BENANG KE JARUM.

NYOMAN       : Nah…jadi.

NYO<MAN HENDAK MENGAMBIL SULAMAN. GUSTI BIANG CEPAT MENYELAMATKANNYA. NYOMAN MEMBIARKAN SAJA. GUSTI BIANG MENYAPU DAN MENIUP‑NIUP SULAMANNYA SEAKAN‑AKAN SUDAH KENA KOTORAN.

GST. BIANG   : Busuk! Busuk! Semua yang kamu sentuh jadi bau! Pergi! Jangan pameran di sini. Ini bukan arja‑roras. Kau  pikir aku tak sanggup melakukan itu sendiri?

NYOMAN       : Tangan Gusti Biang gemetar karena belum minum obat.

GST. BIANG   : Apa? Siapa bilang. Kamu Dukun Sihir. Suasana  kotor sekarang ! Mulut kamu beracun!

NYOMAN       : Tiyang ikatkan dulu ujungnya di kain, nanti Gusti Biang boleh melanjutkan.

KETIKA GUSTI BIANG LENGAH, NYOMAN MENYABET SULAMAN ITU. GUSTI BIANG MARAH.

MENGEJAR TAPI NYOMAN MENYEBRANG KE BAGAIAN MEJA YANG LAIN.

GST. BIANG   : Pergi! Pergi! Jangan permainkan. Nanti kupanggilkan  kamu Wayan ! Biar kamu dirajah!

NYOMAN       : Gusti Biang terlampau sayang kepada Bapak Wayan  (MENGAITKAN) Nah, sekarang tinggal menyulam.

GST. BIANG   : Kau sudah keranjingan anak sapi ! Letakkan  milikku itu !

NYOMAN       : Lihat Gusti Biang mudah sekali bukan ?

GST. BIANG   : O, Gusti! Kau merusak sarung bantal. Wayan, Wayan ! Dimana si Tuli itu !? Wayannnn!

NYOMAN       : Seharusnya bunganya biru muda,  bukan merah,  warna itu kegemaran putra Gusti Biang. Lalu di tengahnya dengan tulisan rapih,  good night darling.

GST. BIANG   : Darling?

NYOMAN       : Artinya selamat malam kekasih.

GST. BIANG   : Apa kekasih ? Mulut busuk. Kau kira siapa  anakku  itu.  Wayan akan menguncimu di gudang tiga hari tiga malam  dengan si Belang. Biar kamu cepat mati. Kamu sudah merusakkan semuanya, semuanya, siangku, malamku! (NAIK PITAM DAN HAMPIR NGAMUK)

NYOMAN       : (MENCOBA MENGALIHKAN PERCAKAPAN) Aduh alangkah cantiknya Gusti Biang sore ini. Lihat pakai kain songket Karangasem.  Kebaya  kain perlak dari

Singapur. Gusti Biang bertambah muda sepuluh tahun. Seperti semasa Gusti Biang muda dan tiyang masih kecil.

GST. BIANG   : Jangan merayu! Aku tidak mau lagi berbicara dengan kamu!

NYOMAN       : Lihat, lihat bayangan Gusti  Biang  di atas gelas  itu. Seperti baru tiga  puluh tahun saja.  Cantik, agung penuh dengan cahaya keningratan tapi berbudi. Maukah Gusti Biang minum obat sekarang ?

GST. BIANG   : Aku tak mau bicara dengan kamu !

NYOMAN       : Obat batuk ini manis dan gurih. Yang kemaren memang terlalu pahit dan

agak basi.

GST. BIANG   : Tidak !

NYOMAN       : Lihat tiyang cicip. (PURA‑PURA MENUANGKAN KE TANGAN KIRINYA SEDIKIT LALU MENCICIP) Aduh manis sekali.

GST. BIANG   : Sepatah pun aku tak mau bicara !

NYOMAN       : Ini aturannya tiga kali satu hari, satu  sendok

makan. Tablet yang merah itu tiga kali satu hari  juga. Ini yang kuning empat  kali satu hari. (GUSTI BIANG MENDENGARKAN DENGAN TAKUT) Yang putih enam kali satu hari. Yang hitam sembilan kali satu hari.  Semuanya tidak  ada  yang pahit. Gusti Biang akan kembali muda lagi  kalau rajin meminumnya. Sakit tulang hilang, pusing‑pusing hilang, batuk hilang, pendeknya menjamin kesehatan dan umur panjang. Mana yang Gusti Biang pilih lebih dahulu ? Yang hitam ini?

GST. BIANG   : Tidak!  Aku tahu apa semuanya itu.  Kalau aku  menelannya kepalaku akan berobah pusing, tulang‑tulangku bertambah sakit, impianku buruk‑buruk dan aku akan terkubur di tempat tidur.

Lalu kamu akan gelapkan beras ke warung Cina.

NYOMAN       : Nah, setelah semuanya diminum, baru nanti tiyang  akan  menggosok punggung, tangan dan betis Gusti Biang dengan minyak cengkeh, supaya rematik itu tidak kumat lagi.

GST. BIANG   : Tidak satu pun! Membiarkan punggungku ditelanjangi dan dibelai padahal aku bukan istrimu, nenekmu atau pacarmu ! Hah! Tak usah ya!

NYOMAN       : Baiklah sekarang dimulai dengan tablet merah itu saja. Menurut resep boleh ditelan dengan

pisang, boleh pula dihancurkan.

GST. BIANG   : Tidak !

NYOMAN       : Lebih baik ditelan saja Gusti Biang, itu yang paling aman. (MENGUPAS PISANG)

GST. BIANG   : Kau harus diseret ke pengadilan. Mana Wayan, setan ini mau meracunku.

NYOMAN       : Asal cepat menelannya tidak akan terasa apa‑apa.

Gusti Biang. Ini pisang emas kesenangan Gusti Biang

GST. BIANG   : Wayan ! Wayan Tua ! Ke sini Wayan Tua !

NYOMAN       : Pejam saja Gusti Biang kalau ngeri. Tahan nafas, lalu menganga sedikit. (MENGULURKAN PISANG DAN TABLET) Kemudian telan dengan tidak ragu‑ragu.

TABLET ITU DILEMPARKAN OLEH GUSTI BIANG

GST. BIANG   : Racunlah dirimu sendiri! Gosoklah punggungmu sendiri. Kenapa meributi badan orang

lain ! Panjang tangan lancang mulut ! Kalau aku sakit aku sudah berbaring dan memanggil Wayan untuk memijit kening  dan betisku. Dia tidak pernah menyakiti seperti kamu. Mendakwa orang tidak waras, buta, pameran, membujuk untuk menelanjangi punggungku. Kalau lelaki tua itu di sini lehermu akan diputarnya. Wayan ! Wayan !.

NYOMAN       : (KECEWA) Gusti Biang akan dioperasi kalau tak mau  minum obat.

GST. BIANG   : (MENGAMBIL TONGKATNYA) Biar ! Kalau aku sampai mati karena racunmu awas‑awaslah ! Rohku akan membalas. Aku akan diam di batang batang pisang, di sungai dan di batu‑batu besar. Aku akan mengganggu kamu dan dan mengisapmu sampai mati. Tiap malam keliwon bila malam bertambah malam aku akan menjadi api

dan bergantungan di pohon jeruk di muka rumahmu. Pergi, sebelum aku pukul kepala kamu!

NYOMAN       : Baiklah Gusti Biang. Kalau tidak suka yang merah

yang hitam ini saja. Lalu yang kuning. Kemarin Gusti Biang sudah berjanji, bukan ?

GST. BIANG   : Wayan ! Wayan ! Wayan Tua ! (BATUK‑BATUK)

NYOMAN       : Lihat, Gusti Biang telah merusak badan Gusti Biang  sendiri. Kalau tidak sayang sama Nyoman pasti akan batuk terus, nanti tidak bisa minum obat

GST. BIANG   : Kurang ajar ! (BATUK‑BATUK TERUS PURA‑PURA)

NYOMAN       :(TAK PEDULI. MENGALIHKAN PEMBICARAAN DENGAN GESIT DAN GEMBIRA) O ya! Obat manis ini saja Gusti Biang. Kalau ini rasanya seperti madu

GST. BIANG   : Pergi ! Pergi !

NYOMAN       : Dokter bilang Gusti Biang harus rajin berobat. Waktu putra Gusti Biang pergi lima tahun yang

lalu, tiyang dipesan supaya menjaga Gusti Biang baik‑baik. Mah sekarang dokter telah menyatakan Gusti Biang sakit. Kenapa begini sekarang? Tidak cinta lagi Gusti Biang kepada putra Gusti Biang sendiri ?

GST. BIANG   : Diam ! Diam ! Siapa tidak cinta sama anaknya sendiri!

MEMUKUL‑MUKULKAN TONGKAT KE KURSI.

NYOMAN       : (BERPIKIR) Baik. (MENGGANTI TAKTIK) Kalau Gusti Biang tidak mau minum obat, apa boleh buat. Tiyang juga tidak perduli. Biar saja. Gusti Biang akan cepat tua, sakit, lesu, tidak bisa bangun, terkapar terus di atas tempat tidur seperti ikan yang kena tuba. Busuk di tempat tidur digerayangi ulat. Ulat bulu lagi. Digerayangi beribu‑ribu ulat bulu di seluruh tubuh Gusti Biang. Lalu jatuh ular belang lima ekor, gedobrak!

GST. BIANG   : Ularrrr. Wayannnn!

GUSTI BIANG PANIK DAN HENDAK MELONCAT DARIM KURSI. NYOMAN CEPAT MENAHAN.

NYOMAN       : Tidak ada ular, tidak ada ular Gusti Biang!

GST. BIANG   : Mana ularnya?

NYOMAN       : Nanti akan datang kalau Gusti Biang tidak mau minum obat. Minum obat ya?

GST BIANG    : Kamu tukang bohong!

NYOMAN       : Tapi nanti Gusti Biang sakit terus.

GST. BIANG   : Biar, apa perdulimu!

NYOMAN       : Sakit dada, sakit jantung, TBC, sakit tulang, buta, tuli, kudisan dan pikun!

GST. BIANG   : Biar !!!

NYOMAN       : Ihhhhh! Menjijikkan! Memalukan sekali! Tidak ada yang mau dekat dengan Gusti Biang lagi. Baunya busuk. Banyak ketombe! Kutu busuk! Cerewet, bawel! Nyoman juga tidak sudi dekat lagi! Tapi (LEMBUT DAN SENYUM) itu

semua tidak akan terjadi, kalau minum obat sekarang. Gusti Biang akan sembuh, jika mau menurut perintah dokter. Nah, sekarang Gusti Biang minum dulu tablet putih ini. Satu per satu.

NYOMAN MENDEKAT DENGAN OBAT, GUSTI BIANG TAKUT LALU BERDIRI DI KURSI DENGAN MENGANGKAT TONGKAT

NYOMAN       : Setelah yang putih lalu yang merah, disambung dengan yang hitam, lalu yang kuning

GST. BIANG   : (TERDESAK, BERDIRI DI KURSI) Kamu setan licik ! (MENGANGKAT TONGKAT SIAP MEMUKUL KALAU NYOMAN MAJU LAGI)

Pergi, pergi sekarang juga ! Wayan!  (MENGGOYANG TONGKATNYA SEHINGGA NYOMAN HAMPIR SAJA KENA) Wayan! Wayan!

NYOMAN       : (TERKEJUT KARENA HAMPIR KENA PUKUL. MEMBENTAK) Gusti Biang !

GUSTI BIANG MEMUKUL OBAT‑ OBAT DI TANGAN NYOMAN DENGAN TONGKATNYA

NYOMAN       : Gusti Biang !

GUSTI BIANG TERUS HENDAK MEMUKUL. NYOMAN CEPAT MEMELUK GUSTI BIANG DAN MEMAKSANYA DUDUK

GST. BIANG   : Wayan, tolong Wayan !

GUSTI BIANG BERONTAK. MEREKA BERGULAT. KETIKA GUSTI BIANG TERLEPAS, IA MEMUKUL NYOMAN

GST. BIANG   : Setan ! Setan !

MEMUKUL NYOMAN DENGAN TONGKATNYA

NYOMAN       : Cukup !

NYOMAN MUNDUR. GUSTI BIANG MEMBURU TERUS MEMUKUL. NYOMAN MENGHINDAR MELOMPAT KE HALAMAN.

GST. BIANG   : Rasakan bedebah !

GUSTI BIANG NGAMUK. IA MEMUKUL OBAT‑OBAT ITU DENGAN KALAP. NYOMAN DATANG LAGI HENDAK MENCEGAH. GUSTI BIANG MEMUKULNYA. SEKARANG NYOMAN KENA. NYOMAN KESAKITAN. IA MENGHINDAR, TAPI KMEMUDIAN TERGELINCIR DI UNDAKAN DAN JATUH. GUSTI BIANG MENGAMBIL CEDOK AIR YANG BERGANTUNG DI SUDUT RUMAH. IA MENYEDOK AIR LALU MEMINUM DAN MENYEMBURKANNYA PADA NYOMAN. NYOMAN TERKEJUT. IA HENDAK MENCEGAH, TAPI GUSTI BIANG MENUMPAHKAN AIR DI CEDOK ITU PADA NYOMAN. NYOMAN JADI BASAH. GUSTI BIANG CEPAT KEMBALI HENDAK MENGAMBIL LAGI AIR. NYOMAN MENGUMPULKAN OBATAN YANG BERSERAKAN. GUSTI BIANG LALU MELEMPARKAN LAGI AIR KE NYOMAN. NYOMAN LARI KE HALAMAN, GUSTI BIANG MELEMPARKAN CEDOK AIR ITU KE HALAMAN KE ARAH NYOMAN.

GST. BIANG   : Pergi sekarang ! Minggat dari rumahku ! Pulang ke desamu sekarang ! Anak memedi kurang ajar! Wayan  Tua ! ! ! ! !

GUSTI BIANG KEMBALI KE OBAT‑OBATAN. IA MELEMPARKAN SEMUA SISA OBAT‑OBATAN YANG MASIH ADA. IA MENGINJAK‑INJAK DAN MEMUKUL‑MUKUL DENGAN TONGKATNYA. KETIKA NYOMAN HENDAK MENDEKAT, IA LANGSUNG MEMUKULNYA LAGI. SEKARANG KE ARAH MUKA. NYOMAN BERHASIL MELINDUNGI MUKANYA DENGAN TANGAN. NYOMAN TERKEJUT DAN TAKUT, AKHIRNYA PUTUS ASA DAN TERDUDUK. IA MEMBIARKAN DIRINYA DIPUKUL. IA MENANGIS DI UNDAKAN. GUSTI BIANG MENDORONG‑DORONGNYA DENGAN TONGKAN SUPAYA PERGI. LALU IA MENYEPAKKNYA DENGAN KAKI. TAPI NYOMAN DIAM SAJA.

GST. BIANG    : Pergi! Pergi!

NYOMAN DIAM SAJA. IA HANYA MENANGIS. GUSTI BIANG LALU MENCOBA MENGANGKAT GENTONG AIR. TERNYATA IA MASIH KUAT. IA MEMBAWA KE DEKAT NYOMAN DAN MENGGUYURNYA. NYOMAN DIAM SAJA.

GST. BIANG    : Pergi sundal!!!

NYOMAN TERDIAM. IA TIBA‑TIBA MEREBUT GENTONG AIR ITU LALU BERDIRI DI DEPAN GUSTI BIANG. MEREKA BERHADAP‑HADAPAN. GUSTI BIANG MENGAMBIL TONGKATNYA SIAP UNTUK MEMBELA DIRI. NYOMAN MEMBANTING GENTONG ITU SAMPAI PECAH BERANTAKAN. TONGKAT GUSTI BIANG TERLEPAS KARENA KAGET. KEDUA‑DUANYA BERHADAPAN.

NYOMAN       : (MELUAP TAK TAHAN LAGI MENAHAN PERASANNYA YANG SUDAH BERTAHUN‑TAHUN TERTEKAN) Tua bangka! Biar cepat mati kamu. Apa peduliku sama kamu!

GST BIANG    : Sundal!

NYOMAN       : Kalau aku sundal, kamu apa!

GST BIANG    : Binatang!

NYOMAN       : Kalau aku binatang kamu juga binatang! Aku pulang sekarang, aku tidak mau lagi ke mari jadi budak kamu!

GST BIANG    : Binatang!

NYOMAN       : Binatang!

GST BIANG    : Sundal!

MYOMAN       : (Ngedumel tanpa suara) Sundal!

GUSTI BIANG TERNGANGA. IA CEPAT MENGAMBIL APA SAJA DI LANTAI DAN MELEMPAR. TAPI NYOMAN SUDAH LARI. GUSTI BIANG MNGUMPAT‑UMPAT, TURUN KE HALAMAN DAN MENGEJAR.

GST BIANG    : Bangsat! Bangsat! Leak barak! Jangan berani kembali sudra laknat! Aku hisap darah kamu kalau berani kembali!

E M P A T

TERDENGAR SUARA ANAK‑ANAK DI LUAR TEMBOK PURI, DI JALANAN SEDANG MENYANYIKAN GALANG BULAN. SEBAGIAN BERTERIAK‑TERIAK MAIN PAK SLODOR. JUGA TERDENGAR TERIAKAN BEDINDA DARU KELUARGA LAIN SEDANG DIAJAR NAIK SEPEDA OLEH TEMANNYA.

WAYAN TERGOPOH‑GOPOH MASUK MASUK.

WAYAN        : Kalau tak salah ada yang berteriak ada apa ? Gusti Biang?

WAYAN BINGUNG MENCARI GUSTI BIANG. GUSTI BIANG MENJAWAB DARI HALAMAN.

GST. BIANG     : Tua bangka ! Ke mana saja kamu !

WAYAN          : Titiang ketiduran di dalam gudang Gusti Biang.

GST. BIANG     : Kejar leak itu, puter lehernya !

WAYAN          : Leak yang mana Gusti Biang ?

GST. BIANG     : Kejar dia dungu !

WAYAN          : Mana ada leak sore‑sore begini Gusti Biang.

GST. BIANG     : Kejar perempuan itu, leak !

WAYAN          : Perempuan yang mana Gusti Biang ?

GST. BIANG     : Anak sudra itu. Masukkan dia ke dalam gudang sampai mati.

WAYAN          : Nyoman ?

GST. BIANG     : Usir dia dari rumah ini !

WAYAN          : Tetapi ………

GST. BIANG     : Cepat ! Pukul dia ! Kenapa kamu kena sihir !

WAYAN          : Gusti Biang, Gusti Biang jangan berolok‑olok.

GST. BIANG     : Cepat ! Terlalu !

WAYAN          : Tetapi, memukul, memutar leher, aduh ……

GST. BIANG     : Ompong ! Tuli ! Dasar sudra !

WAYAN          : Tapi Nyoman, perawan yang begitu cantik dan mahal serta sukar didapat dan titiyang harus memutar lehernya ? Lebih baik titiyang memutar leher titiyang sendiri daripada merusak yang begitu indah !

GST. BIANG    : Dia hendak membunuhku !

WAYAN         : Membunuh ? Itu pikiran sesat saja

GST. BIANG    : Ah ! Kamu juga bangsat !

WAYAN         : Jangan gampang marah Gusti Biang. Itu kan cuma angan‑angan, sabarlah Gusti Biang sudah lanjut usia, hampir delapan puluh tahun, tambah lagi sedang penyakitan  …

GST. BIANG    : Diam ! Kamu sendiri yang penyakitan dan tua bangka! Kamu juga minggat dari rumah ini, biar mati kelaparan di pinggir kali ! Pergi !

WAYAN         : (SABAR) Baik, usir saja orang tua ini Gusti Biang tapi jangan menyuruh menyakiti hati

orang dalam usia begini lanjut. Orang tua‑tua tidak pantas lagi membuat gara‑gara. Kejahatan untuk titiyang sudah telat. Kini titiyang sedang bertapa dan bertaubat. Kalau ular belang, ular hijau, cacing tanah atau ulat bulu, anak‑anak tikus yang merah segera titiyang bunuh. Seperti tiga hari yang lalu Gusti

Biang duduk di sini dan titiyang yang mencangkul di sana di bawah pohon sawo. Tiba‑tiba Gusti Biang berteriak, ular‑ular. Dan secepat kilat titiyang terbang ke mari memotong karet itu menjadi delapan potong. Ya, ular memang menjijikan, binatang yang paling purba dan jorok. Tapi tidak

semua ular berbahaya dan jelek. Ular sawah misalnya, membantu petani membasmi tikus. Ada ular pendek kecil dan berkilat. Ular itu adalah binatang yang paling seni dan paling lucu. Waktu muda titiyang suka menyimpan anak ular di saku untuk sekedar membelai belainya Gusti Biang tentu tak

percaya (MEROGOH SAKU) Mana ya?  Jangan takut Gusti Biang, Ular sawah dan ular tanah sama sekali tak berbahaya. (REPOT MEROGOH SAKU BAJU) Ah mana dia  …..

GUSTI BIANG MEMPERHATIKAN DENGAN CEMAS SERTA MENDEKAT KE PINTU. WAKTU WAYAN MENGELUARKAN SESUATU DARI KANTONGNYA DIA TERKEJUT.

WAYAN         : Nah ini dia (MENGELUARKAN KOCEK TEMBAKAU)

GST. BIANG    : Ularrrrrr ! (LARI MASUK) Setan Tua Buang itu, buang! Buang!

MERASA BERHASIL MENGGIRING GUSTI BIANG MASUK KE DALAM KAMAR, WAYAN LALU MELIHAT KE SELILINGNYA. IA MENGAMBIL SAPU LALU MENYAPU BARANG‑BARANG YANG BERANTAKAN. DARI DALAM KAMAR TERDENGAR UMPATAN‑UMPATAN GUSTI BIANG.

L I M A

WAYAN DUDUK DI UNDAKAN SAMBIL MENCOCOK‑COCOK SIRIH DI DALAM SUMBUNYA, SAMBIL MENEMBANGKAN TEMBANG YANG SEJAK TADI DITEMBANGKANNYA DI BELAKANG. NYOMAN KELUAR DARI SAMPING MEMBAWA BUNGKUSAN

WAYAN      : Mau kemana Nyoman ? Eeeee mau ke mana itu?

NYOMAN     : Pulang !

WAYAN      : Malam begini ?

NYOMAN     : ya !

WAYAN      : Kamu akan kemalaman di jalan.

NYOMAN     : Biar !

WAYAN      : Banyak orang jahat sekarang.

NYOMAN     : Biar !

WAYAN      : Ada apa ini ? Kenapa tiba‑tiba pulang ?

NYOMAN     : Tidak apa‑apa.

WAYAN        : Sudah dapat izin ? (NYOMAN DIAM) kenapa mesti tergesa‑gesa. Tak ada yang marah kepada kamu, jangan dengarkan omongannya. Dia tidak tahu apa yang dikatakannya. Bapa sendiri diusirnya tadi. Tapi buat apa yang waras menghiraukan omongan yang tak tentu. Besok pagi dia sudah

lupa.

NYOMAN       : Saya bosan di sini.

WAYAN        : Ya di mana‑mana kalau agak lama membosankan.

NYOMAN       : Tertekan seperti binatang !

WAYAN        : Sudahlah jangan dihiraukan. Dia sakit.

NYOMAN       : Direndahkan, dihina, dicaci. Saya sudah besar, saya malu, saya punya perasaan. Saya tak tahan lagi menahan sekarang.

WAYAN        : Dia memang begitu. Bukan kepada kamu saja kepada semua orang. Sabar sajalah.

NYOMAN       : Tidak. (HENDAK PERGI)

WAYAN        : Nyoman ! Tu Ngurah akan pulang. Apa yang akan bapa katakan kalau beliau menanyakan Nyoman.

NYOMAN       : Dia sudah lupa pada saya Bapa.

WAYAN        : Jangan berkata begitu. Bapa kenal betul siapa Tu Ngurah.

NYOMAN       : Lelaki banyak punya kesempatan

WAYAN        : Tapi dia tidak.

NYOMAN       : Kalau begitu saya tunggu di desa saja.

WAYAN        : Sudahlah dia cuma seorang tua bangka, usianya mem

buat dia linglung, kenapa Nyoman pusing benar kepa da orang bingung?

NYOMAN BIMBANG.

E N A M

BEBERAPA ANAK YANG MAIN CARI‑CARIAN BERLARI‑LARI UBER‑UBERAN DI SEKITAR NYOMAN DAN WAYAN. ADA JUGA YANG SAMPAI NAIK KE RUMAH.

GUSTI BIANG TIBA‑TIBA MUNCUL. ANAK‑ANAK LARI KETAKUTAN PADA GUSTI BIANG. NYOMAN MENYADARI KEHADIRAN GUSTI BIANG LALU MENGERASKAN SUARANYA.

NYOMAN       : Tidak. Katakan kepadanya. Saya tak mau dihina lagi, saya sudah bosan.

NYOMAN HENDAK PERGI.

GST. BIANG   : Apa? Jangan biarkan dia membawa bungkusan itu Wayan! Tahan dia Wayan !

WAYAN        : Tentu Gusti Biang !

GST BIANG    : Bawa dia pergi !

WAYAN        : Baik, titiyang akan pergi.

GST BIANG    : Bukan kamu, dia itu! Budek!

WAYAN        : Ya titiyang masih di sini Gusti Biang.

GST BIANG    : Usir dia pergi, tetapi jangan biarkan mencuri bungkusan itu !

WAYAN        : Itu pakaiannya sendiri Gusti Biang !

GST BIANG    : Dulu ketika kubawa dia kemari dia hanya pakai selembar kain robek.

WAYAN        : Tapi ………..

NYOMAN       : Ambil ini semua ! Ambil!

NYOMAN MEMBERIKAN BUNGKUSAN PADA WAYAN.

NYOMAN       : Ambil saja kalau mau!

NYOMAN MAU PERGI.

GST BIANG    : Tunggu dulu !

NYOMAN       : Apa lagi ?

GST BIANG    : Kamu boleh pergi tetapi sebelum itu kamu harus melunasi hutang hutang kamu !

NYOMAN       : Hutang ? Hutang apa ?

GST BIANG    : Wayan !!

WAYAN        : Ya, Gusti Biang !

GST BIANG    : Ambil buku besar catatan keluar masuk !!

WAYAN        : Catatan keluar masuk ?

GST BIANG    : Dalam lemari kamar di rak yang paling atas, di sebelah album. (MEROGOH SETAGEN DAN MENGELUARKAN SERENTETAN KUNCI) Ini kunci !

WAYAN        : Catatan keluar masuk ? (MENERIMA KUNCI).

GST BIANG    : Jangan berlagak dungu. Cepat !

NYOMAN HENDAK PERGI, GUSTI BIANG CEPAT MENGHADANG.

GST BIANG    : Eeee, tunggu! Mau ke mana kamu! Cepat Wayan! Jangan sampai dia lari sebelum bayar semuanya.

NYOMAN       : Bayar apa?

GST BIANG    : Wayan cepat, cepat ambil catatannya!

WAYAN        : Catatan keluar masuk, baru sekali ini aku mendengarnya (PERGI MASUK).

T U J U H

TINGGAL NYOMAN DAN GUSTI BIANG. GUSTI BIANG MENDEKATI NYOMAN. NYOMAN DIAM SAJA. TAPI IA BERSIAP‑SIAP KALAU TERJADI APA‑APA. IA MENGAMBIL SESUATU UNTUK SENJATA.

GST. BIANG   : Hah! (MELUDAH) Jangan coba‑coba lari sebelum kamu lunasi semua!

NYOMAN       : Lunasi apa?

GUSTI BIANG MELUDAH.

GST BIANG    : Mentang‑mentang masih muda, kamu kira kamu ini cantik? (MENGERUK DAHAK DAN MELUDAH) Jari kelingking kakiku, lebih cantik dari kamu! Si Belang yang sudah kudisan itu masih lebih cantik dari kamu! Mulut besar! Kamu tidak ada seiris pantatku

waktu aku masih muda. Jangan besar kepala kamu. Jangan sombong kamu mentang‑mentang aku sudah tua. Tetek ini layu begini karena aku sudah tua. Kamu juga kalau sudah tua tetek kamu begini. Tetekku lebih besar dari tetek siapa saja di Tabanan ini, apalagi dari tetek kamu. Pantat dan bokongku lebih besar dari

bokong kamu yang tepos itu. Gigiku lebih bagus dari gigi kamu. Laknat sudra! Begini jadinya kalau kasih hati sama sudra!

NYOMAN DIAM SAJA.

GST BIANG    : Krisis moral!

NYOMAN DIAM.

GST. BIANG   : Pengacau rumah tangga!

NYOMAN DIAM

GST BIANG    : Tukang fitnah! Pencuri! Tukang molor! Tidak becus kerja! Korupsi! Subersif! Perempuan nakal!

NYOMAN MULAI KESAL DAN HENDAK DUDUK.

GST BIANG    :  Berdiri saja! (NYOMAN TAK JADI DUDUK) Jangan bergerak ! Mukamu cantik, tapi kelakuanmu seperti babi. Susah payah aku

sekolahkan aku didik aku pelihara, dasar anak sudra, akhirnya bisanya cuma menyakitkan. Main mata sama guru, main kotor sama tukang kebon sekolah, berpacaran ke sana‑ke mari, menjelek‑jelekan orang tua, menipu menggelapkan belanja dapur, tukang curi telor ayam, lintah pengisap darah, tukang porot harta warisan leluhur, segala macam perbuatan jelek‑jelek, kamu biangnya. Apa kamu kira aku sudah pikun?! Ah? Bangsat! Baru sekali ini aku kenal pelacur kesiangan seperti kamu ini. Kamu tikus busuk, kamu orang kecil, kamu membisu karena kamu salah ! Jangan pandang aku seperti itu bangsat!

NYOMAN       : (MENGGUMAM) Tua bangka kotor!

GST BIANG    : Apa ? Kamu mungkir? Ayo mungkir keras‑keras !

NYOMAN HENDAK PERGI

GST BIANG    : Jangan pergi dulu ! Mau kemana kamu ?

NYOMAN       : Pulang !

GST BIANG    : Pulang saja cepat sana! Kamu pikir aku akan nahan‑nahan kamu di sini? Eeeeee, (MELUDAH) buat apa memelihara anak setan. Kalau kamu tidak ada malah aman! Tidurku bisa enak, tidak ada yang memperkosa supaya aku minum racun. Pergi sana! Kamu sudah mengotori mataku ! (NYOMAN HENDAK PERGI) Tunggu dulu!

NYOMAN       : Apa lagi !

GST BIANG    : Wayan ! Cepat Wayan ! Bajingan ini mau lari! Heee kamu betina gatal, jangan bergerak!

NYOMAN       : Gusti Biang mau apa lagi, tiyang berhenti mulai

sekarang.

GST BIANG    : Pencuri !

NYOMAN       : Katakanlah apa saja

GST BIANG    : Pembohong, penipu, tukang tadah !

NYOMAN       : Ya apa lagi !

GST BIANG    : Tukang rayu ! Tukang adu‑domba!

NYOMAN       : Benar !

GST BIANG    : Budak nafsu, haus laki‑laki. Mata duitan !

NYOMAN       : Biar ! Gusti Biang sendiri apa ?

GST BIANG    : Apa !

NYOMAN       : (BERISIK) Drakula.

GST BIANG    : Apa ? Kurang ajar. Menuduh aku berbuat serong ? Apa? Bangsat! Itu pikiran manusia bejat? Wayan ! Wayan akan memotong rambutmu !

NYOMAN       : Gusti Biang tidak tahu dihormati !

GST BIANG    : Kamu anjing, tidak tahu balas budi !

NYOMAN       : Sudah dirawat, dimanjakan dihormati, apa lagi lebih dari itu !

GST BIANG    : Kamu tukang santet! Penjahat, perampok ! Perempuan murahan!

NYOMAN       : Biar!

GST BIANG    : Pelacur ketengan!

NYOMAN       : (MENANGIS KARENA SAKIT HATI) Terlalu. Dirawat malah tambah parah. Aku tidak kuat lagi!

GSTI BIANG   : Ayo pergi sana!

NYOMAN PERGI.

GST BIANG    : Eeeeeeeee! Jangan pergi ! Wayan ! Cepat !

D E L A P A N

WAYAN DATANG DENGAN SEBUAH BUKU BESAR YANG LUAR BIASA TEBAL

WAYAN        : Apa saja yang dicatat buku raksasa ini ?

GST BIANG    : Cepat Wayan! Bawa kemari ! Kamu perempuan picisan, tunggu! Dengarkan ini! Biar kamu mampus!

WAYAN        : (MENYERAHKAN BUKU PADA GUSTI BIANG) Aduh buku apa ini Gusti Biang. (KEPADA NYOMAN) Jangan pergi Nyoman, jangan!

NYOMAN       : Aku mau pulang sekarang, aku bersumpah tidak mau menginjak

Puri ini lagi!

GST BIANG    : Kamu boleh pulang setelah melunasi hutang‑hutangmu!

NYOMAN       : Hutang apa ? Aku tidak punya hutang !

GST BIANG    : Baca Wayan ! Semua yang ditulis dengan tinta merah.

WAYAN        : Baca ? Bagaimana, yang mana Gusti Biang ?

GST BIANG    : Dengarkan baik‑baik setan. Di sini dicatat semua hutang‑hutangmu selama duabelas tahun. Cepat sedikit Wayan ! nanti dia lari!

WAYAN        : Cepet, cepat, tetapi nanti dulu. Atau ini (BINGUNG MEMBALIK‑BALIK BUKU) terbalik. Bagaimana membacanya Gusti Biang.

GST BIANG    : Baca keras‑keras supaya tetangga juga dengar! Supaya ada saksi kalau nanti masuk pengadilan !

WAYAN        : Ya, tetapi disini kurang terang. Sudah ketemu tetapi tak mau berbunyi.

Ini apa ya?

GST BIANG    : Baca keras‑keras ! Biar dia tahu rasa ! Dengar baik‑baik perempuan sesat!  Nanti dulu, aku lupa.

WAYAN        : Apa Gusti Biang ?

GST BIANG    : Apa kamu bisa membunyikan huruf? Kamu PBH kan!

WAYAN        : Benar Gusti Biang.

GST BIANG    : Bawa kemari ! (WAYAN MENYERAHKAN BUKU) Bawa kaca

mata dan lampu ke mari !

GUSTI BIANG MENMBAWA BUKU BESAR ITU KE DEKAT MEJA, LALU DUDUK DI KURSI PUTAR, WAYAN MENGAMBIL KACA DAN LAMPU. DIA MENDEKAT DAN MENGANGKAT LAMPU KE DEKAT BUKU.

GST BIANG    : Sekarang dengar baik‑baik brengsek. (MEMASANG KACA MATA, WAYAN MEMEGANG LAMPU TEPLOK DIDEKATNYA, GUSTI BIANG MEMBALIK‑BALIKKAN HALAMAN BUKU) Ini dia. Catatan hutang‑piutang untuk Nyoman Neli Wati. Asal

dari Meiling. Umur kira‑kira sekarang sudah dua puluh tahun. Sudah termasuk perawan tua. Tanda tanda biasa. Orangnya kasar. Jelek. Busuk. Seperti umumnya orang‑orang dari desa yang berkasta sudra. Pekerjaan babu

WAYAN        : Hutang‑piutang apa Gusti Biang ?

NYOMAN       : Aku tidak punya hutang !

GST BIANG    : (TENANG LANTANG) Tahun 1950. Dua perangkat pakaian adat, dua ekor babi, satu ekor penyu, satu karung beras.

WAYAN        : Tapi kalau tak salah itu catatan pengeluaran sumbangan Gusti Biang ke banjar untuk upacara mecaru  ……

GST BIANG    : Diem! Kamu tahu apa! Tahun 1951 ‑ 1952, dua ekor kerbau, tiga karung kopra, beras lima kwintal dan uang sepuluh rupiah.

WAYAN        : Wah, wah ! Itu bukan pengeluaran, itu pemasukan.

GST BIANG    : Diem! Kamu kok bising terus! ‘Ntar gua gampar juga lhu!’ Tahun 1953 disamakan. Tahun 1955 disamakan. Tambahannya, denda karena minggat pulang ke kampung satu bulan. Tahun 1957 tiga stel pakaian sekolah, alat tulis menulis, kain batik dan kebaya, satu seperempat karung beras dan uang seratus rupiah tiga talen.

NYOMAN       : Orang gila!

GST BIANG    : Eee tahun 1958 minggat lagi ! Denda saja, kenapa di sini kosong! Minggat lagi satu bulan ke rumah. Denda satu juta. Tahun 1959 lupa dicatat. Tapi disamakan saja. Ditambah duapuluh prosen karena kenaikan harga sembilan kebutuhan pokok dan kenaikan gajih pegawai negeri. Nah ini apa, kenapa ada yang mencoret‑coret di sini, digambar dengan gambar drakula lagi. Kurangajar, ini pasti perbuatan kamu. Bejat! Moral bejat! Denda saja lagi lima juta! Dianggap sama saja dengan tahun 1960 waktu Ngurah berangkat ke Jawa,

dengan perhitungan dua kali sebab harga gula yang tadinya tiga ringgit menjadi dua belas rupiah tujuh puluh lima sen.

WAYAN        : Titiyang ingat waktu Ratu Ngurah ke Jawa dan Nyoman waktu itu mengenakan baju rok pertama kali, ikut mengantar sampai ke Gilimanuk, wah sudah lama juga.

GST BIANG    : Tahun 1960, satu karung beras, lima potong pakaian  handuk Good Morning, sabun kolibrita, sandal, klompen, cincin

perak. Dua baju kutang bekas. Bakpao. Tahun 1962. Disamakan, satu karung beras, lima potong pakaian, lima ekor anak ayam, dua biji jarum, kaca jendela, tiga biji telor ayam dan dua telor angsa, korek api dan seekor anak kucing. Tahun 1963, 1964, 1965, 1966  … ini gambar apa ya?

GUSTI BIANG MENGAMBIL SEBUAH POSTER DARI KALENDER YANG DILEPIT. WAYAN MEMBACA.

WAYAN        : Ini apa lagi, sepuluh juta. Kain apa harganya sepuluh juta. Pih ini hutang‑hutang Wayan? Gusti Biang juga mencatat hutang‑hutang Wayan. Kenapa sampai sepuluh juta?

GST BIANG    : Diem! Ini apa?

MEMPERHATIKAN POSTER TELANJANG.

GST BIANG    : Ini pasti buku pelajaran Ngurah yang disembunyikan perempuan jalang itu di sini. Bawa lampunya ke mari. Ini apa Wayan?

GUSTI BIANG MEMBUKA. POSTER WANITA TELANJANG ITU MERENTANG KELUAR. GUSTI BIANG MELIHAT BAGIAN DALAMNYA.

GUSTI BIANG  : Aku tidak bisa baca ini pasti buku pelajaran Ngurah. Kalau dia sampai tahu kamu sembunyikan di sini, pasti

kamu akan ditelanjangi, diarak di jalan supaya kamu kapok! Simpan pelajaran Ngurah ini Wayan!

WAYAN BINGUNG MELIHAT POSTER ITU. TIBA‑TIBA GUSTI BIANG MELIHATNYA.

GST BIANG    : Aduh Ratu! Apa ini! Bangsat, siapa yang sudah menaruh gambar cabul di sini!

GUSTI BIANG MEREBUT GAMBAR ITU LALU MEROBEKNYA.

GST BIANG    : Krisis moral! Kamu perempuan kotor! Mana tongkatku aku pukul dia sekarang!

WAYAN        : (MENGALIHKAN) Tapi apa benar semua yang dicatat itu hutang‑hutang Nyoman, Gusti Biang?

GST BIANG    : Kalau sudah dicatat di sini artinya benar!

WAYAN        : Tapi rasanya tidak adil kalau semua pengeluaran Gusti Biang dianggap hutang Nyoman!  Daripada Nyoman

lebih baik titiyang sendiri yang menanggung

GST BIANG    : Sabar, sabar kuping bongol! Bagian kamu sendiri nanti dicatat dengan tinta hijau. Tunggu saja, nanti akan aku bacakan juga…….tahun 1962 disamakan. Satu karung beras, lima buah piring, seekor kakak tua, dan sebuah tongkat bergagang naga, dua gelas, satu  cangkir, asbak, minyak kayu putih, balsem cap

macan, roti tawar, kacang kedele, tempe, tahu, singkong, bawang merah, pohon kelapa, gudang, dua truk pasir, batu kapur, sepuluh sak semen, batu bata, es campur, mie pangsit, teromper, (BATUK) kerupuk, apa ini, puk ame‑ame, belalang, kupu‑kupu, bertepuk adik pandai,,,,air susu lemak manis, dan apa lagi

ini. Dan yang lain‑lain. Pokoknya kalau dijumlah sampai sekarang, total bernilai sepuluh kali sepuluh jadi seratus juta rupiah dua puluh lima sen.

WAYAN        : Aduh, banyak sekali. Kepala titiyang saja tidak ada harganya satu juta.

GST BIANG    : (MENUTUP BUKU) Kamu dengar semua itu? Kamu saksinya Wayan! Nah, sekarang bayar semua itu. Kalau sudah bayar kamu cepat‑cepat pergi sebelum aku muntah. Boleh diangsur sepuluh kali, rentenya 20 persen sebulan. Mengerti ? Simpan lagi buku ini Wayan !

WAYAN        : (MENERIMA BUKU) Sepuluh kali hidup belum tentu Wayan bisa mengumpulkan seratus juta. Kenapa setelah dibaca buku ini jadi bertambah berat sekarang ? Aduh ! (MASUK).

S E M B I L A N

GST BIANG    : Bayar !

NYOMAN       : Bayar apa?

GST BIANG    : Hutang kamu! Apalagi! Bayar!

NYOMAN       : (MENGGUMAM) Orang gila!

GST BIANG    : Bayar! Bayar!

NYOMAN  HENDAK PERGI TAPI GUSTI BIANG MENGHALANGI DENGAN MENGANGKAT TONGKATNYA HENDAK MEMUKUL.

GST BIANG    : Berani hutang mesti berani bayar!

NYOMAN       : Hutangmu juga harus dibayar!

GST BIANG    : Apa kamu berani bilang mu, aku kamu bilang mu? Jaga mulutmu bedebah! Anjing kudisan!

GUSTI BIANG MEMUKUL TETAPI LUPUT.

GST BIANG    : Itu peringatan. Berani lagi ngomong kasar, aku masukkan tongkat ini ke mulut kamu! Biar tembus ujungnya ke pantat kamu! Bayar!

NYOMAN       : Bayar!

GST BIANG    : Aku yang bayar? Bayar apa? Aku tidak punya hutang sama sudra. Nyentuh tangan kamu saja aku jadi sakit begini, apalagi makan uang kamu. Penyakit menular!

Penyakit kotor!

NYOMAN       : Duabelas tahun dihina, dua belas tahun ditekan, duabelas tahun dicaci, dimaki, direndahkan, dianggap binatang, diperintah, dikambing hitamkan, difitnah. Duabelas tahun aku menimba air, menyapu, mencuci, membersihkan tai‑tainya, dua belas tahun tak pernah pergi keluar, dua belas tahun aku bersabar, menangis, dua belas

tahun aku menyia‑nyiakan hidupku di sini! Semuanya sepuluh  kali seratus juta. Ambillah semua itu!!! (CEPAT PERGI)

GST BIANG    : Kamu bangsat ! Jangan lari (MELEMPAR DENGAN TONGKATNYA) Bajingan ! Pencuri ! Dasar pintar ngomong tapi kosong ! Mati digigit ular kamu ! (TURUN MEMBUNTUTI) Jangan pergi! Jangan pergi!

GUSTI BIANG MEMEGANG NYOMAN, NYOMAN MENYENTAKKAN DIRINYA. GUSTI BIANG TERUS MEMEGANG LAGI. BAJU NYOMAN ROBEK. NYOMAN TERUS JALAN. GUSTI BIANG MEMEGANG LAGI BAJU NYOMAN YANG ROBEK, GUSTI BIANG MENARIK KAIN NYOMAN. NYOMAN BERUSAHA MENAHAN KAINNYA. LALU GUSTI BIANG MENJAMBAK RAMBUT NYOMAN. NYOMAN MENARIK RAMBUTNYA. GUSTI BIANG TERUS MENJAMBAK DAN MENARIK NYOMAN KEMBALI SAMPAI KE UNDAKAN. NYOMAN MENJERIT KESAKITAN. AKHIRNYA NYOMAN MENARIK KAIN GUSTI BIANG. KAIN BAGIAN LUAR GUSTI BIANG LEPAS. TINGGAL KAIN PUTIH DI DALAMNYA MASIH MELILIT DI BADANNYA. BARU GUSTI BIANG MENJERIT DAN MELEPASKAN RAMBUT NYOMAN. NYOMAN LALU LARI. WAKTU ITU ANAK‑ANAK YANG MAIN DI LUAR MASUK MENONTON. MEREKA TERSEPESONA MELIHAT GUSTI

BIANG HANYA MEMAKAI TAPIH/KAIN PUTIH. GUSTI BIANG MENGAMBIL PECAHAN‑PECAHAN GENTONG LALU MELEMPARI ANAK‑ANAK ITU. ANAK‑ANAK BERLARIAN, TETAPI TIDAK PERGI MEREKA TERUS MENONTON. GUSTI BIANG TERUS MELEMPAR‑LEMPAR DAN MENGUSIR ANAK‑ANAK ITU. MENGEJAR‑NGEJAR MEREKA. ANAK‑ANAK TERTAWA MEMPERMAINKAN. GUSTI BIANG AKHIRNYA LARI MENGAMBIL GOLOK DARI SAMPING RUMAH DAN MENGEJAR ANAK‑ANAK ITU. SEMUA ANAK‑ANAK BERHAMBURAN PERGI. GUSTI BIANG MENGEJAR SAMPAI KELUAR.

S E P U L U H

WAYAN MASUK LAGI

WAYAN        : Catatan keluar masuk. Catatan apa itu. Usia sekarang jalannya kenceng. Pengaruhnya juga kenceng. Kalau tidak hati‑hati kita bisa gendeng. (MELIHAT HALAMAN SEPI) Ke mana dia ! Gusti Biang…

KEDENGARANNYA SUARA GUSTI BIANG MENGUMPAT. WAYAN MENEMUKAN KAIN DAN MEMEGANGNYA.

WAYAN        : Aduh kok dilepas lagi.

MULA‑MULA SUARANYA LALU MUNCUL GUSTI BIANG DENGAN GOLOK. IA MENGGEMBOK PINTU DEPAN.

GST BIANG    : Sekarang sudah aman ! Tidak bisa dia masuk. Kalau                           sampai berani manjat tembok aku potong kakinya.

WAYAN        : Gusti Biang ini wastranya kok jatuh lagi, nanti ditertawai tetangga. Pakai lagi.

GUSTI BIANG MENGAMBIL KAINNYA.

GST BIANG    : Kamu dapat di mana?

WAYAN        : Di situ tadi, jatuh.

GST BIANG    : Aku lupa.

GUSTI BIANG MEMAKAI KAINNYA. WAYAN MEMBANTU.

WAYAN        : Kemana Nyoman Gusti Biang?

GST BIANG    : Biar saja dia pergi.

WAYAN        : Pergi ke mana?

GST BIANG    : Ini pegang. (MEMBERIKAN GOLOK) Kamu siap‑siap saja. Kalau dia berani datang lagi, langsung potong!

GUSTI BIANG LALU MENCARI TONGKATNYA.

GST BIANG    : Sekarang sudah terlalu banyak anjing di sini. Kalau tidak diusir kencing‑berak di mana‑mana. Aduh pinggangku rasanya seperti habis ditebang. Wayan pijit

kakiku lagi Wayan, dingin sekali rasanya.

GUSTI BIANG NAIK KE RUMAH TAPI LALU DUDUK DI UNDAKAN.

GST BIANG    : Ambil minyak serei, gosok betisku rasanya dingin sekali. Kepalaku berkunang‑kunang. Cepat Wayan.

WAYAN        : Tetapi mana Nyoman ?

GST BIANG    : Jangan sebut‑sebut dia lagi !

WAYAN        : Wah, ini bakal susah. Ke mana Nyoman Gusti Biang ?

GST BIANG    : Gosok kakiku Wayan.

WAYANG LALU MENGELUARKAN MINYAK SEREI DARI BAWAH DESTARNYA, LALU DUDUK DI UNDAKAN YANG LAIN MENGGOSOK DAN LANGUNG MEMIJIT KAKI GUSTI BIANG SAMBIL BERSILA.

WAYAN        : Gusti Biang sudah mengusir Nyoman?

GST BIANG    : Aduh badanku rasanya bercerai‑berai.

WAYAN        : Gusti Biang tidak boleh mengusir dia. Malam‑malam begini nanti Nyoman diculik orang. Kenapa Gusti Biang marah sama dia? Anak itu kan sabar sekali? Kalau tidak

ada dia, siapa nanti yang mengurus rumah?

GST BIANG    : Kepalaku, punggungku, betisku semuanya sakit. Mana  kaca mata itu ? Mari kita baca surat Ngurah.

WAYAN        : Wah, dia akan mengutuk karena keteledoran ini !

GST BIANG    : Siapa mengutuk ?

WAYAN        : Ratu Ngurah.

GST BIANG    : Siapa Ratu Ngurah?

WAYAN        : Putra Gusti Biang?

GST BIANG    : Aku punya putra?

WAYAN        : Ya itu putra satu‑satunya.

GST BIANG    : Aku tidak punya putra.

WAYAN        : Yang sekolah di Jawa.

GST BIANG    : O Ngurah?

WAYAN        : Ya Ratu Ngurah.

GST BIANG    : Sekolah di Jawa dia?

WAYAN        : Ya. Sudah lima tahun belum juga lulus.

GST BIANG    : Kenapa dia tidak pulang, aku sudah sakit begini.

WAYAN        : Nanti kalau sudah lulus akan pulang.

GST BIANG    : Biar saja tidak usah pulang, nanti aku yang ke situ naik kapal terbang.

WAYAN        :(MELIHAT KE SEKITAR DAN BERPIKIR TENTANG NHYOMAN) Dia akan

marah kalau begini caranya.

GST BIANG    : Kenapa dia marah?

WAYAN        : Dia akan mengutuk titiyang.

GAT BIANG    : Kenapa dia mengutuk.

WAYAN        : Nyoman, Nyoman yang Gusti Biang usir tadi, masak

tidak tahu !

GST BIANG    : Aduh! Jangan terlalu naik mijitnya kamu ini porno! (GUSTI BIANG MEMPERBAIKI KAINNYA DAN MENENDANG SEDIKIT WAYAN) Tua bangka! Kamu sakit, ya ?

GUSTI BIANG BANGKIT LALU MENUJU KE KURSI PUTARNYA.

WAYAN        : Buta, tuli, pikun !

GST BIANG    : Mata kamu merah, kamu sakit Wayan ! Untung tadi sudah kuusir perempuan jalang itu. Kalau tidak, mata kamu yang merah itu pasti mau ditambalnya dengan jamu!

WAYAN        : Jadi Gusti Biang usir tadi.

GST BIANG    : Kalau dia sampai berani lagi kembali aku kunyah‑kunyah sampai

hancur batok kepalanya.

WAYAN        : Aduh, sakit gede, kenapa jadi begini sekarang !

GST BIANG    : Jangan nangis, hutang‑hutang kamu tidak perlu kamu bayar. Nanti catatan yang pakai tulisan hijau itu aku robek. Jumlahnya hanya sepuluh juta.

WAYAN MELIHAT KE SEKELILINGNYA.

WAYAN        : Lebih baik aku susul, sebelum terlanjur.

BERGERAK PERGI KE PINTU DEPAN.

GST BIANG    : Wayan! Mau ke mana kamu!

WAYAN TIDAK MENDENGARKAN PANGGILAN ITU, TERUS MEMBUKA PINTU GERBANG.

GST BIANG    : Bongol! Jangan dibuka!

WAYAN TERUS MEMBUKA. GUSTI BIANG BERDIRI MENGAMBIL TONGKAT DAN MELEMPAR WAYAN. WAYAN TERKEJUT DAN MENANGKAP TONGKAT ITU.

GST BIANG    : Jangan dibuka bongol! Tutup lagi!

WAYAN        : (MEMANGGIL) Nyoman….. (MENCARI) Nyoman….

GST BIANG    : Wayan!

WAYAN KELUAR DAN MENCARI‑CARI NYOMAN.

WAYAN        : Nyoman… kamu di mana, jangan dengarkan, orang sudah pikun biarkan saja!

GST BIANG    : Bangsat, aku tidak pikun!

WAYAN        : Jangan mendengarkan orang gila Nyoman, nanti kamu ikut

gila, Nyoman…

GST BIANG    : Kurangajar! Siapa yang gila? Kamu, kamu yang gila! Wayannnn!

GUSTI BIANG BERGEGAS TURUN. LALU DIA MENUTUP PINTU GERBANG.

GST BIANG    : Rasain! Kalau keras kepala biar kapok! Pergi saja semua. Aku sudah sesak hidup bersama orang‑orang sudra itu. Sekarang aku aman. Wayan….

GUSTI BIANG MENGINTIP LEWAT PINTU YANG TERTUTUP ITU.

GST BIANG    : Wayan….., Wayan…..

GUSTI BIANG MEMBUKA LAGI PINTU.

GST BIANG    : Wayannnnnnnnnn!

WAYAN MASUK

WAYAN        : Nyoman, Nyoman Neli adalah tunangan Tu Ngurah, Gusti Biang !

GST BIANG    : Apa ?

WAYAN        : Buta, tuli, pikun, Demi Tuhan, demi kebenaran !

GST BIANG    : Apa?

WAYAN BERGEGAS KE BELAKANG

WAYAN        : Nyoman…….

GUSTI BIANG KE BERANDA.

GST BIANG    : Orang gila! Semua orang sudah mereng sejak suamiku ditembak Nica. Kalau

saja dia masih ada sekarang, tidak akan begini jadinya. Puri ini tidak akan dibiarkannya kehilangan kewibawaan. Sekarang tidak ada lagi penandu‑penandu datang mengebagan membawa kelapa. Tidak ada lagi yang mau disuruh membersihkan lalang di atas tembok. Kalau didauhin semua menolak. Semua membangkang. Semua kurangajar. Dunia ini sudah runtuh sekarang.

GUSTI BIANG NAIK KE UNDAKAN. WAYAN MUNCUL DARI SAMPING RUMAH DAN MENDEKATI GUSTI BIANG.

WAYAN        : Ke mana Nyoman, Gusti Biang.

GST BIANG    : Tidak ada lagi yang mengerti sopan‑santun!

WAYAN        : Dia tidak ada di belakang Gusti Biang.

GST BIANG    :(LUPA APA YANG SUDAH TERJADI, LALU MEMANGGIL NYOMAN) Nyomannnnnnn…..! Mana obat dan jamuku. Pemalas! Obat dan jamuku sengaja disembunyikan supaya aku cepat mati. Kalau aku mati dia bisa bebas main mata dengan tukang es puter di bawah pohon beringin, Nyomannnnnnn! Kemana Nyoman, Wayan?

WAYAN        : Nyoman sudah pergi Gusti Biang.

GST BIANG    : Syukur! Biar saja dia pergi. Biar mati kelaparan. Biar diperkosa buruh‑buruh di penambangan

WAYAN        : Tapi Nyoman Neli adalah tunangan Ratu Ngurah, putra Gusti Biang!

GST BIANG    : Apa?

WAYAN KEBINGUNGAN.

GST BIANG    : (TERTAWA) Fitnah apa itu ! Darah kami keturunan

satria kenceng, raja‑raja Majapahit yang tak pernah cemar oleh darah sudra !

WAYAN        : Titiyang bersumpah Gusti Biang !

GST BIANG    : Tidak !

WAYAN        : Mereka saling cinta mencintai

GUSTI BIANG TERTAWA  HISTERIS

GST BIANG    : Cinta apa ?

WAYAN        : Kalau begini alamat akan ada perang.

GST BIANG    : Tidak ada perang lagi.

WAYAN        : Tetapi kalau mereka berdua menghendakinya bagaimana?

GST BIANG    : Tidak!

WAYAN        : Tapi mereka sudah saling berjanji.

GST BIANG    :(BERTERIAK) Tidakkkkk! (MENGUBAH SUARANYA) Janji apa!???

WAYAN        :Mereka sudah berjanji, karena mereka saling mencintai.

GST BIANG    : Cinta? Apa itu cinta?

WAYAN        : Kalau orang muda saling mencintai, mereka akan berani mengorbankan apa saja! Mereka masih muda Gusti Biang

GST BIANG   : (MARAH SEKALI)  Tidak !!!! (MEMASANG KACA MATA DAN MEMBUKA SURAT) Ke mari kamu ! Ke mari! Duduk ! Duduk!

GUSTI BIANG NAMPAK SANGAT MARAH. WAYAN RAGU‑RAGU DUDUK. GUSTI  BIANG MEMASANG KACAMATA LALU MEMBACA. WAYAN MEMPERHATIKAN.

GST BIANG    : Swastiastu. Paduka ibunda yang tercinta. (BERHENTI LALU BICARA PADA WAYAN) Kamu dengar?

WAYAN        : Ya Gusti Biang.

GST BIANG    : Anak yang baik selalu memulyakan orang tua, meskipun dia sudah jadi orang pintar. Tidak seperti kamu! Dengar! (MEMBACA LAGI) Paduka ibunda yang tercinta, (DITAMBAH‑TAMBAH) Junjunganku yang adil dan agung. Sesudah lama memikirkan, anakda membuat keputusan penting hari ini. Di sana terlalu banyak godaan. Pikiran anaknda juga

setiap hari ada di rumah, teringat semuanya. (DITAMBAH, TANPA MEMBACA SURATNYA) Teringat bagaimana ibunda, junjungan anaknda tidak ada yang memperhatikan. Setiap hari ibunda hanya bergaul dengan anjing‑anjing tua, anak‑anak yang tambah nakal seperti setan semua, Wayan yang sudah tambah pikun

dan anak sundal yang gatal itu. Semuanya sudah berkomplot untuk membunuh ibunda yang akan anakda bela sampai titik darah penghabisan. Anakda akan bunuh siapa saja yang sudah menyikiti perasaan ibunda. Awas! (MENOLEH KEPADA WAYAN) Kamu dengar itu?

WAYAN        : Dengar Gusti Biang. Masak Tu Ngurah mau membunuh Wayan?

GST BIANG    : Makanya kamu jangan nakal. Sampai di mana tadi (MEMBACA LAGI)……  Pikiran anakda,

pikiran anakda juga setiap hari di rumah, teringat semuanya. (KETAWA, KASIH KOMENTAR) Anak yang baik budi pekertinya, tidak akan melupakan rumah ke mana pun jauhnya pergi dia akan selalu ada di rumah. (MENERUSKAN) Karena itu, sebelum semuanya tambah buruk, dengan surat ini anakda beritahukan bahwa

anaknda akan pulang…. (MENURUNKAN SURAT LALU BICARA KEPADA WAYAN) Kau dengar itu? Dia akan pulang. Tapi kenapa dia pulang? Kenapa dia tiba‑tiba mau pulang? (MEMBACA LAGI) Dengan surat ini anakda beritahukan bahwa anakda akan pulang, meskipun pelajaran anakda belum selesai dengan tuntas. (TERKEJUT)

Apa?

TIBA‑TIBA MUKA GUSTI BIANG KERUH SEKALI. DARI SAMPING NAMPAK BAYANG‑BAYANG ALMARHUM SUAMI GUSTI BIANG DALAM KEREMANGAN CAHAYA MEMAKAI PAKAIAN KEBESARAN.

GST BIANG    : Dia akan pulang sebelum pelajarannya tuntas?

ALMARHUM     : Ya dia akan pulang Sagung Ratih.

GST BIANG    : Pulang? Kenapa pulang?

ALMARHUM     : Sebab hatinya tidak pernah pergi dari sini.

GST BIANG    : Tapi dia harus jadi dokter.

ALMARHUM     : Bagaimana orang bisa jadi dokter, kalau dia sendiri sakit.

GST BIANG    : Sakit? Sakit apa? Sakit apa anakku Ngurah.

ALMARHUM     : Sakit yang tidak kelihatan.

GST BIANG    : Sakit apa yang tidak kelihatan? Ditenung orang?

ALMARHUM     : Sakit itu datang dari rumah ini. Kamu sendiri yang memeliharanya.

GST BIANG    : Bohong! Itu fitnah!

ALMARHUM     : Kamu sendiri yang memelihara anak perempuan itu di sini.

GST BIANG    : Anak perempun mana?

ALMARHUM     : Anak gadis yang cantik jelita itu.

GST BIANG    : Gadis jelita yang mana!

WAYAN        : Nyoman maksudnya, Gusti Biang

GST BIANG    : Itu bukan anak gadis, itu perawan tua, anak setan!

ALMARHUM     : Anak setan sekali pun tetapi Ngurah sudah mencintainya. Ngurah pulang untuk minta ijin mengikat Nyoman sebagai

tunangan, karena dia takut kalau Nyoman lama ditinggalkan, dia akan direbut orang. Siapa tidak mau dengan wanita yang cantik dan mengerti seperti Nyoman

GST BIANG    : Itu perempuan sudra!

ALMARHUM TERTAWA

ALMARHUM     : Apa artinya sudra kalau sudah tinggal berdua di dalam kamar. Di atas tempat tidur semua manusia sama

GST BIANG    : Tidak !!! Ini tidak boleh terjadi ! (BANGKIT) Anak durhaka !

GUSTI BIANG MENGHALAU ALMARHUM PERGI DENGAN TONGKAT. LALU GUSTI BIANG MEROBEK‑ROBEK SURAT ITU.

ALMARHUM     : Tapi Ratih, kamu

GUSTI BIANG  : (BERBALIK) Diam!! (MENONJOK BAYANGAN ALMARHUM DENGAN TONGKAT SEHINGGA ALMARHUM PERGI) Jangan menyebarkan kemauan setan ke rumah ini!

GUSTI BIANG TERUS MENONJOK‑NONJOK BAYANGAN ALMARHUM. WAYAN MENCOBA MENARIKNYA.

WAUYAN       : Sabar Gusti Biang!

GST BIANG    : Kamu lagi! Kamu yang menghasut dia. Kamu bangsatnya !

WAYAN        : Tidak !

GST BIANG    : Ya, sebab kamu sendiri telah gagal !

WAYAN        : Gagal apa ?

GST BIANG    : Almarhum yang menggagalkan kamu !

WAYAN        : Alamarhum siapa?

GST BIANG    : Almarhum suamiku yang sudah menggagalkan kamu. Kamu dendam!

WAYAN        : (KETAWA PAHIT) Almarhum tidak lebih dari sebelah

tanganku.

GST BIANG    : Apa?! Kamu menghina pahlawan !

WAYAN        : Siapa yang mengatakan dia pahlawan ?

GST BIANG    : Kamu kurang ajar ! Dia pahlawan yang ditembak Nica.

WAYAN        : Itu kekeliruan sejarah.

GST BIANG    : Diam !

WAYAN        : Salah kaprah!

GST BIANG    : Diam ! Kamu tak bisa dimaafkan lagi. Aku mengutukmu!  Keluar, keluar dari rumah ini !

WAYAN        : Kekeliruan yang tetap tertutup karena orang kasihan.

GST BIANG    : Mulutmu berbisa. Keluar ! (MENDORONG)

WAYAN        : (MEMBENTAK) Sagung Ratih !

GST BIANG    : Apa? (TERSINGGUNG DISEBUT NAMA KECILNYA) Bangsat!

GUSTI BIANG MELEMPAR WAYAN DENGAN TONGKAT. KENA.

WAYAN        : (MARAH BETUL) Baik ! Saya akan pergi!

GST BIANG    : Pergi! Pergi sekarang! Jangan ngomong saja! Pergi semuanya, tinggalkan aku sendirian di sini. Jangan ada yang ganggu aku lagi! Lebih baik aku sendirian daripada kamu injek‑injek aku seperti keset tua. Tukang ngintip!

WAYAN PERGI. GUSTI BIANG JONGKOK DI POJOK. TIBA‑TIBA IA DILANDA OLEH RASA PEDIH DAN SEPI. IA MERINTIH.

GST BIANG    : Dia sudah menjadi setan. Suamiku dihinanya. Anakku  dihasutnya. Aku diintip‑intipnya terus kalau lagi mandi! Kau pikir aku tidur kalau kamu memijit kakiku, kamu pikir aku tidak tahu tanganmu suka naik ke atas pahaku? Dusta, fitnah, rumah ini sudah kehilangan wibawa, karena semua orang tak beradab lagi. Tu Singgih……Kenapa kau tinggalkan aku di tengah dunia buruk ini. (MENANGIS DISISI KURSINYA) Tubuhku, perasaanku, fikiranku semuanya sakit

(MENANGIS).

TERDENGAR ANAK‑ANAK MENYANYI DI LUAR TEMBOK PURI. MEREKA BERHENTI MAIN KEJAR‑KEJARAN. KINI MEREKA BERPEGANGAN TANGAN MEMBUAT LINGKARAN DAN MENYANYI TENTANG BULAN. MEREKA MAIN ULAR‑ULARAN. GUSTI BIANG TERUS MENGISAK‑ISAK, MENGERANG‑ERANG.

S E B E L A S

GUSTI BIANG TERTIDUR DI KURSI. ANAK‑ANAK SUDAH PULANG KE RUMAH MASING‑MASING. DI LUAR TEMBOK PURI TINGGAL ANAK‑ANAK MUDA. MEREKA DUDUK‑DUDUK SAMBIL BERBICARA DENGAN NADA DATAR. SALAH SEORANG MENIUP SULING. TIBA‑TIBA MEREKA BERHENTI MENGHENTIKAN KEGIATAN. DI UJUNG JALAN NAMPAK NGURAH DATANG MEMBAWA KOPOR. ANAK‑ANAK MUDA ITU KEMUDIAN MENYONGSONG NGURAH, MEREKA BERTEGUR SAPA DAN SALAM‑SALAMAN. MEREKA MENGAMBIL KOPOR DAN BAWAAN NGURAH. LALU SALAH SEORANG MEMANJAT TEMBOK DAN MEMBUKA GEMBOK GERBANG. MEREKA MENGANTARKAN NGURAH SAMPAI MASUK KE DALAM PURI. KEMUDIAN DIAM BEBERAPA LAMA. NGURAH NAMPAK SANGAT RINDU DAN KANGEN PADA RUMAHNYA. IA MEMPERHATIKAN IBUNYA YANG TIDUR DI KURSI.

NGURAH     : Ibu !

NGURAH MENYENTUH IBUNYA.

NGURAH     : Ibu…

GUSTI BIANG BERGERAK. TEMAN‑TEMAN NGURAH DIAM‑DIAM PERGI.

GST BIANG  : Siapa ini ?

NGURAH     : Tiyang Ngurah, anak ibu.

GST BIANG  : Ngurah?

NGURAH      : Benar. Kenapa ibu tidur di sini ?

GST BIANG   : Bangsat.

NGURAH      : Ada apa? Apa yang terjadi ?

GUSTI BIANG MEMBUKA MATANYA.

GST BIANG   : Jadi kamu pulang juga Ngurah?

NGURAH       : Ya ibu. Tapi tadi bus dari Gilimanuk pecah bannya, jadi saya terlambat sekali sampai. Ibu sehat‑sehat saja?

GST BIANG    : Siapa bilang aku sehat. Kelihatannya saja aku sehat tapi di sini (MENUNJUK DADANYA) sudah bonyok.

NGURAH       : Ibu sakit?

GST BIANG    : Bukan sakit lagi.

NGURAH       : Sakit apa ibu?

GST BIANG    : Di sini ada perang.

NGURAH       : Perang?

GST BIANG    : (MENCOBA BANGUN) Aduh

NGURAH       : Apanya yang sakit?

GST BIANG    : Semua.

NGURAH       : Mari masuk. Jangan tidur di sini.

GST BIANG    : Tubuhku dan perasaanku sakit.

NGURAH       : Yang lain ke mana? Tak ada orang di rumah ? Mana Wayan dan Nyoman ?  (MENGANGKAT IBUNYA MENDUDUKKAN DI KURSI) Itu kenapa obat‑obat berserakan? Banyak anjing rupanya sekarang di sini?

GST BIANG    : Ya

NGURAH       : Jangan pelihara anjing lagi kalau begitu.

GST BIANG    : Betul. Akan aku bunuh semua.

NGURAH TIBA‑TIBA MEMUNGGUT SURAT YANG ROBEK. IA TERKEJUT.

NGURAH       : Ini surat saya, kenapa dirobek ibu?

GST BIANG    : (MENARIK NAFAS PANJANG) Ini perang.

NGURAH       : Perang bagaimana ?

GST BIANG    : Ambil lampu itu (NGURAH MENGAMBIL LAMPU) Perang. Perang. (NGURAH MENYERAHKAN LAMPU) Perang.

GUSTI BIANG MENGANGKAT LAMPU MENERANGI MUKA NGURAH. DIPAN

DANGNYA LAMA‑LAMA. DIA GEMBIRA DAN TERHARU TETAPI DITAHANNYA. LALU SESUATU TERJADI DI MUKA ITU. GUSTI BIANG MENAHAN TANGIS. IA BERDIRI TAK MAU DITOLONG LALU PERGI HENDAK MASUK KE DALAM MEMBAWA  LAMPU. IA MENGANGKAT LAMPU ITU KE DEKAT POTRET SUAMINYA DI DINDING.

GST BIANG    : Kamu sudah besar sekarang. Muka kamu hitam dan cekung. Apa saja yang kamu makan di Jawa. Apa mereka tidak memberi kamu makan?

NGURAH       : Tiyang sering sakit, Ibu.

GST BIANG    : Kalau sakit kamu baru ingat pulang.

NGURAH       : Ya saya tidak tahan lagi, Ibu.

GST BIANG    : Aku juga tidak tahan.

NGURAH       : Tidak tahan kenapa?

GST BIANG    : Ini perang (HENDAK MASUK. TERTEGUN DIPINTU) Jadi kamu pulang karena kamu mau kawin dengan perempuan

sudra itu?

NGURAH       : (BINGUNG LAMA DIAM) Ibu …..

GST BIANG    : (TETAP BERBALIK PUNGGUNG) Kalau kamu kawin dengan sudra itu jangan menyebut ibu kepadaku.

NGURAH       : Itu kita bicarakan nanti saja ibu.

GST BIANG    : Sudah jelas, aku terlalu lelah. Sebelum ini berakar dalam hati, selesaikan sekarang saja.

NGURAH       : Masuklah dulu ibu. Ibu sakit harus berbaring. Nanti saja jelaskan.

GST BIANG    : Sekarang. Aku tidak akan berbaring sebelum selesai  dengan baik. Bertahun tahun kutunggu kamu di sini  dengan setia. Apa saja yang telah mengisi otakmu di Jawa ?

NGURAH       : Ini harus dipecahkan dengan tenang ibu. Ibu harus memberikan ke  …

GST BIANG    : Jawab saja dengan singkat.

NGURAH       : Ya, tapi ibu harus memberikan saya kesempatan.

GST BIANG    : Singkat saja.

NGURAH       : Tidak mudah soalnya. Bukan soal ya atau tidak. Ini bukan saja memerlukan perasaan tapi pikiran. Saya dan ibu belum siap untuk itu.

GST BIANG    : Pikiran siapa, pikiran apa?

NGURAH       : Pikiran kita semua

GSTI BIANG   : Pikiran kamu!

NGURAH       : Betul. Tapi pikiran saya akan menyangkut juga pikiran ibu

GST BIANG    : Kamu pintar bicara sekarang!

NGURAH       : Ibu saya lelah sekali

GST BIANG    : Ya atau tidak?!

NGURAH       : Akan saya jelaskan nanti

GST BIANG    : Aku tidak perlu penjelasan. Ya atau tidak? Kamu mau pakai perempuan itu atau tidak?

NGURAH       : Ibu!

GST. BIANG   : Kamu sudah kena guna‑guna!

NGURAH       : Ibu ! Jangan begitu!

GST. BIANG   : (BERBALIK MARAH) Dengar. Kamu boleh cari perempuan siapa

saja, berapa saja, asal kamu kuat, tapi kamu tidak boleh kawin dengan perempuan sudra itu!

NGURAH       : Tidak, kenapa tidak ? (GUSTI BIANG TAK MENJAWAB

TETAPI MENATAP) Siapa yang menjadikan kita lebih  terhormat dari Nyoman. Saya tak pernah merasa diri saya menjadi orang yang lebih tinggi. Kalau toh saya dilahirkan dengan martabat, kedudukan yang lain, itu cuma menyebabkan saya harus berkelakuan yang lain, itu cuma menyebabkan saya harus berkelakuan baik dan pintar. Tidak ada lain‑lain. Saya merasa berkewajiban untuk meminta restu ibu, tapi kalau ibu menolak dengan alasan yang tak bisa diterima akal, apa boleh buat saya akan menerima akibatnya. Saya bertanggungjawab atas hidup saya. Saya akan mempunyai kesempatan untuk menang. Ibu harus mengerti.

GST. BIANG   : Anak durhaka ! Aku tak mau memandang kamu lagi!

GUSTI BIANG BERBALIK HENDAK MASUK

NGURAH       : Sabar ibu, ini tak bisa diselesaikan begini saja.

GST. BIANG   : Pergi dari rumah ini! Aku akan tetap mempertahankan kehormatanku. Keluhuran Puri ini! Milikku yang penghabisan !

GUSTI BIANG MASUK, LALU  MENGUNCI PINTU. KEMUDIAN KEDENGARAN MENANGIS. NGURAH MENCOBA MENGETOK

NGURAH       : Ibu

GST BIANG    : Pergi! Nyah semua dari rumahku ini !!!

D U A B E L A S

NGURAH BERFIKIR. GUSTI BIANG TERUS MENANGIS DI DALAM, MUNCUL

WAYAN MEMBAWA BUNGKUSAN DAN SENJATA TUA. IA TERKEJUT DAN TAK PERCAYA MELIHAT NGURAH.

WAYAN        : Tu Ngurah…

NGURAH       : Ya, saya pulang Bapa Wayan.

WAYAN        : Tepat sekali.

GST. BIANG   :(DARI DALAM) Pergi semua dari rumah ini. Seka rang! Sekarang !

NGURAH TURUN KE HALAMAN

NGURAH       : Apa yang terjadi Bapa Wayan ?

WAYAN        : Perang.

NGURAH       : Perang bagaimana?

WAYAN        : Perang urat syaraf.

NGURAH       : Terus terang saja apa yang terjadi ? Mana Nyoman ?

WAYAN        : Kami semua diusirnya tiap hari. Tapi malam ini tak bisa ditahan lagi. Semua ada batasnya Tu Ngurah. Sudah seperempat abad Bapa mengabdi di sini karena cinta. Sekarang semuanya berakhir sudah. Buruk sekali. Mungkin barangkali harus begini Tu Ngurah. Bapa permisi sekarang, pulang.

NGURAH       : Pulang ke mana?

WAYAN        : Ke mana saja. Pokoknya pergi dari sini.

NGURAH       : Jangan! Bapa tidak boleh pergi.

T I G A B E L A S

PINTU TERBUKA. GUSTI BIANG DENGAN LAMPU TEPLOK DAN TONGKAT KELUAR

GST. BIANG   : Kamu hantu kenapa kamu masih di sini ? Pergi!

WAYAN        : Sayang sekali Tu Ngurah, Bapa pulang sekarang.

WAYAN HENDAK PERGI

GST. BIANG   : Apa yang kau bawa itu ?

WAYAN        : Pakaian‑pakaian tua. (MEMBUKA)

GST. BIANG   : Itu bedil siapa ?

WAYAN        : Bedil titiyang ketika jaman perjuangan.

GST. BIANG   : Bohong ! Itu bedil yang digantung di gudang.

WAYAN        : Benar.

GST. BIANG   : Pencuri ! Itu bedilku. Kembalikan !

GUSTI BIANG MEREBUT BEDIL ITU, TAPI WAYAN MEMPERTAHANKAN

GST. BIANG   : Lepaskan pencuri ! Bedil ini pusakaku.

NGURAH       : Berikan bedil itu Bapa Wayan.

WAYAN        : Tidak ! Ini bedil Wayan.

DST BIANG    : Lepaskan bedilku, lepaskan bangsat!

GUSTI BIANG BERUSAHA MENARIK BEDIL ITU. TAPI WAYAN TETAP KUKUH MEMEGANGNYA.

GST BIANG    : Ngurah! Jangan diam saja, ambil bedil itu.

NGURAH       : Berikan saja dulu Bapa Wayan!

WAYAN        : Tidak. Ini bedil titiyang, Tu Ngurah.

GST. BIANG   : Kamu lihat, kamu lihat sendiri sekarang, di bawah mata kita dia mencuri. Perampok!

WAYAN        : Ini bedil titiyang Ngurah.

GST. BIANG   : Bohong! Semua harta‑bendaku semuanya dicurinya !

WAYAN   :Saya bukan pencuri. Ini bedil milik tityang

NGURAH       : Kalau itu betul, apa buktinya ?

WAYAN        : (BINGUNG) Tidak ada.

NGURAH       : Coba saya lihat.

NGURAH MENGAMBIL BEDIL ITU DARI WAYAN. WAYAN DENGAN BERAT HATI MEMBERIKAN. NGURAH MEMPERHATIKAN BEDIL YANG SEDERHANA ITU.

NGURAH       : Bedil apa ini?

GUSTI BIANG CEPAT MENYAMBAR BEDIL ITU. WAYAN BERUSAHA UNTUK MENGAMBILNYA, TAPI GUSTI BIANG MENODONGKAN KE ARAH WAYAN.

GST. BIANG   : Pencuri! Bertahun‑tahun aku simpan bedil ini untuk peringatan pada almarhum. Bedil ini ditemukan orang tidak jauh dari jenasah ayahmu Ngurah. Bedil itulah

yang sudah merengutkan nyawa almarhum junjunganku. Orang menghadiahkannya kepadaku untuk peringatan pada jasa‑jasa almarhum di jaman revolusi melawan penjajah.

NGURAH       : Benar Bapa Wayan ?

WAYAN        : Benar.

NGURAH       : Kalau begitu itu bedil ibu.

WAYAN        : Bukan. Ini bedil titiyang Ngurah. Titiyang sendiri yang sudah membuat bedil ini bersama kawan‑kawan.

GST BIANG    : Bohong!

WAYAN        : Tityang bersumpah, bedil itu kepunyaan titiyang!

GST. BIANG   : Semua pencuri bersumpah untuk menutupi kebohongan. Jangan dengarkan cacing

ini Ngurah. Bedil itu yang sudah mencabut nyawa ayahmu. Kalau dia masih hidup sekarang, barangkali dia sudah jadi jendral. Tiap malam aku menangis karena ingat pada beliau. Gagahnya. Jantannya. Tegas tindakannya. Wibawanya. Dia seorang pahlawan. Besar jasa‑jasanya pada negara. Tiap malam,

kalau semua orang sudah tidur, dia datang ke mari dan merawatku, karena semua orang‑orang itu mau membunuhku. Bedil bangsat. Kalau tidak ada bedil ini, aku tidak akan menderita jadi janda. Ambil leak barak, kalau itu yang kamu inginkan, tapi pergi sekarang juga dari rumah ini! Sudra!

MELEMPARKAN BEDIL ITU PADA WAYAN

WAYAN        : (MEMUNGUT, MEMBELAI) Bedil ini menyimpan kejadian‑kejadian buruk. Bedil ini sudah banyak membunuh Tu Ngurah, karena itu dia harus disembunyikan. Tapi sekarang tak ada lagi yang perlu disembunyikan

GST. BIANG   : Pergi!

MEMBERIKAN BEDIL ITU PADA NGURAH. KEDUA ORANG ITU BERPANDANGAN

WAYAN        : Biar Tu Ngurah saja yang menyimpan.

NGURAH TIDAK MAU MENERIMA.

NGURAH       : Saya tidak mau menyimpan bedil yang sudah membunuh ayah saya sendiri.

WAYAN        : Bukan orangnya yang dibunuh, tapi kelakuannya Tu Ngurah.

NGURAH       : Apa?

GST BIANG    : Diam kamu! Pergi sekarang!

WAYAN        : Tidak perlu disembunyikan lagi sekarang !

NGURAH       : Apa maksud Bapa ?

WAYAN        : Bapa memang orang sudra dari desa yang tidak pernah makan

sekolahan. Bapat tidak pernah dicatat sebagai pejuang. Tapi Bapa selalu ikut bertempur di zaman revolusi secara diam‑diam. Orang tidak ada yang tahu siapa Bapa. Dalam pertempuran puputan di Margarana di bawah pimpinan Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai, para pejuang kita semuanya gugur. Kita sudah kehilangan

orang‑orang kita yang terbaik yang berani menentang penjajahan tanpa pamrih apa pun kecuali untuk kemerdekaan.

GST BIANG    : Pergi bangsat!

WAYAN        : Wayan akan pergi, tapi Tu Ngurah harus tahu ini.

GST BIANG    : Diam!

WAYAN        : Wayan sudah lama sekali diam, Wayan mau bicara sekarang

GST BIANG    : Usir dia, usir bangsat itu sekarang!

WAYAN        : (MEMBENTAK) Diam!

GUSTI BIANG TERKEJUT LALU DIAM. IA KETAKUTAN. NGURAH HERAN.

NGURTAH      : Bapa Wayan! Bapa tidak boleh kasar begitu pada ibu saya! Pantas ibu marah‑marah selama ini. Rupanya semua orang sudah terlalu berani sekarang

GST BIANG    : Semua orang sudah biadab, semua sudah kurang ajar Ngurah.

NGURAH       : Saya tidak terima Bapa Wayan bersikap begitu pada ibu saya!

WAYAN        : Para pejuang terkepung dari darat dan udara. Mereka sudah berjuang dengan gagah berani. Tetapi kemenangan belum di tangan kita. Kapal terbang menderu‑deru memuntahkan peluru. Semua pejuang melakukan puputan, gugur dalam pertempuran itu. Desa Marga menjadi saksi, Bapa kehilangan teman‑teman dan pemimpin yang tidak ternilai

harganya. Pengorbanan sebesar itu tidak seharusnya terjadi, kalau saja tidak ada ular berkepala dua di antara kita. Kalau tidak ada pengkhianatan, puputan itu tidak perlu terjadi. Bapa sendiri yang tahu siapa pengkhianatnya.

GST BIANG    : Bohong!

GUSTI BIANG MENYERBU DAN MEMUKUL WAYAN DENGAN BEDIL ITU. WAYAN MENANGKAP DAN MEREBUT BEDIL. NGURAH TERKEJUT. LALU IA IKUT MENARIK IBUNYA. WANITA ITU MENJERIT‑JERIT.

GST BIANG    : Pergi, pergi bangsat!

WAYAN        : (MEMBENTAK) Diam!

GUSTI BIANG TERKEJUT. KETAKUTAN MENDENGAR SUARA WAYAN YANG MENGGELEDEK. LALU DIAM. NGURAH JUGA TERKEJUT MENDENGAR WAYAN BERTERIAK.

NGURAH       : Bapa Wayan

WAYAN        : Tu Ngurah…Bapa tidak buta hurup seperti yang disangka oleh banyak orang. Bapa bisa membaca dokumen‑dokumen di meja almarhum. Bapa tahu sekali siapa pengkhianat itu. (MENUNJUK KE POTRET ALAMARHUM) Dialah penghianatnya.

NGURAH       : Dia siapa ?

WAYAN        : Almarhum, ayah Tu Ngurah.

GST. BIANG   : Pembohong besar ! Almarhum seorang pahlawan.

WAYAN        : Pahlawan dosa‑dosanya yang berdarah.

GST. BIANG   : Pembual ! Mana buktinya!

WAYAN        : Orang tua ini buktinya.

NGURAH       : Bukti dalam bentuk apa ?

WAYAN        : Tangan ini. Tangan ini yang membidikkan bedil itu ke jantungnya.

GST. BIANG   : Apa?! Jadi benar kamu, kamu yang sudah membunuh almarhum !

NGURAH   :Apa?

GUSTI BIANG MENANGIS.

WAYAN        : Ya. Sudah waktunya menerangkan ini sekarang. Almar hum bukan pahlawan. Dokumen‑dokumen kejahatannya ada dalam bungkusan itu. Dialah yang melaporkan pasukan Ciung Wanara yang dipimpin oleh Letnan Kolonel IGusti Ngurah Rai sedang berada di Marga. Karena itu Belanda mengerahkan kapal terbang dan menyergap para pejuang kita di sana. Almarhum itu

(MENUNJUK POTRET SUAMU GUSTI BIANG) seorang penjilat! Hanya karena orang‑orang segan kepada jasa‑jasa leluhurnya saja dia dibiarkan oleh rakyat tetap hidup bahkan dianggap pahlawan. Sekarang kebohongan itu jadi kebenaran. Sebagian dari salah kaprah, di tengah kekeliruan sejarah dalam dunia yang kacau

ini.  Ini harus diakhiri sekarang.

WAYAN MENGANGKAT BEDIL, LALU MENGHANTAM GAMBAR ALMARHUM. KACANYA PECAH BERANTAKAN. GUSTI BIANG MENJERIT.

GST. BIANG   : Ngurah! Bunuh setan itu!

NGURAH       : Bapa Wayan! Bapa sudah menghina ayah saya!

WAYAN        : Menghina ayah Tu Ngurah? Sama sekali bukan! Orang itu pengkhianat, hentikan menyembah pengkhianat!

NGURAH       : Pergi!

WAYAN        : Tu Ngurah mungkin menyangka almarhum itu ayah yang  sejati karena beliau memang suami sah dari Gusti Biang. Beliau juga memiliki 13 orang istri tapi itu semua hanya sandiwara untuk menutupi ketidak mampuannya sebagai lelaki. Mana mungkin orang yang mati kejatannan bisa menggauli istri? Kalau beliau harus melaksanakan tugasnya sebagai suami, bapalah yang mengerjakan semua itu. Itu rahasia kami berdua yang dipegang teguh oleh semua orang sampai sekarang. Boleh tanyakan kepada Gusti Biang siapa sebenarnya ayah Tu Ngurah. Dia berpura‑pura saja tidak tahu siapa lelaki yang selalu berbaring di sampingnya. Sebab sesungguhnya kami saling  menyintai sejak kecil sampai sekarang. Hanya karena kesombongan martabat kebangsawanannya dia menolakku, lalu kawin dengan seorang yang dipilih oleh keluarganya. Bapa yang tetap mengharapkannya dengan cinta yang

makin lama makin dalam, begitu saja ditinggalkan. Coba tanyakan itu pada Gusti Biang sekarang!

NGURAH TERKEJUT. IA BERPALING KEPADA IBUNYA.

NGURAH       : Betul semua itu ibu?

GUSTI BIANG DIAM SAJA.

NGURAH       : Betul semua itu Bapa Wayan?

WAYAN        : Tanyakan sendiri itu pada ibu Tu Ngurah.

GUSTI BIANG DIAM MENANGIS

WAYAN        : Bapa menghamba di sini karena cinta bapa kepadanya  seperti cinta Tu Ngurah kepada Nyoman. Bapa tak pernah kawin seumur hidup dan  orang‑orang selalu menyangka bapa orang gila orang pikun. Biar sajalah.

Sebenarnya Bapa lakukan semua itu untuk melupakan kesedihan, kehilangan yang tak bisa ditukar dengan harapan. Tu Ngurah tidak boleh seperti Bapa. Kejarlah Nyoman. Gadis itu belum sampai jauh. Ia baru saja berangkat pulang ke desanya. Nyoman seorang yang keras kemauan. Ia akan menjadi istri

yang baik, Ngurah

NGURAH        : Bapa

WAYAN         : Pergilah dulu, nanti semuanya beres.

NGURAH MELIHAT IBUNYA. GUSTI BIANG MENGISAK MAKIN KERAS. KEMUDIAN NGURAH BERGEGAS KELUAR. DI LUAR GERBANG TEMAN‑TEMANNYA YANG SEJAK TADI MENUNGGU IKUT BERGABUNG. MEREKA MEMBAWA SEPEDA. SAMBIL NAIK KE SEPEDA NGURAH DAN KAWAN‑KAWAN MENCARI NYOMAN.

E M P A T B E L A S

GUSTI BIANG MASIH TERISAK‑ISAK. WAYAN MEMPERHATIKAN SAJA.

WAYAN        : Bagaimana Sanggung Ratih ?

GST. BIANG   : Kenapa kau ceritakan itu semua kepadanya ?

WAYAN        : Waktunya telah tiba. Anak‑anak muda harus tahu siapa mereka sebenarnya.

GST. BIANG   : Kau menyebabkan aku sangat malu.

WAYAN        : Apa artinya malu. Kita sudah tua. Kenapa anak‑anak muda itu dicegah ?

GST. BIANG   : Aku tak akan mencegahnya lagi. Tapi jangan ceritakan yang dulu‑dulu lagi aku malu.

WAYAN        : Kalau begitu Wayan tetap di sini. Wayan ingin  mati di dekatmu, Sagung Ratih.

WAYAN  MENGAMBIL BUNGKUSAN DAN SENJATA LALU PERGI KE BELAKANG. GUSTI BIANG MENGANGKAT LAMPU TEPLOK MENGAWASI WAYAN PERGI. DALAM MUKANYA TERBAYANG SESUATU YANG TERTEKAN TAPI YANG TAK PERNAH PADAM. MUNGKIN CINTA, RASA SEPI DAN ATAU KEBENCIAN PADA KODRATNYA YANG TELAH TAK MEMUNGKINKAN IA UNTUK MEMILIH.

ANJING MELOLONG DI KEJAUHAN.

DAN SETERUSNYA

Yogyakarta, 1966

REVISI Jakarta, 5 Oktober 1994

One response

25 04 2010
abdul gates

mas kalo bisa, naskahnya di format pdf. ajah jadi ga kepanjangan.
terus deneng siji tox

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: